Oleh: Muhammad Zea Oreza Burhan, S.Pd

Melihat perkembangan dan situasi dunia akhir-akhir ini tak henti-hentinya kita dipenatkan oleh berita-berita dan permasalahan yang membuat kita mengelus dada. Bagaimana tidak? Semakin bertambah umur negeri tetapi permasalahan belum teratasi bahkan bertambah masif.

Mulai dari kemiskinan, pengangguran, korupsi, harga-harga naik, hukum yang di permainkan, persampahan, perselingkuhan, pendidikan carut marut, kerusakan alam, tontonan tidak mendidik, arus teknologi yang sulit direm, rusaknya generasi muda, narkoba, sektor kesehatan menjadi ajang bisnis dan masih banyak lagi sederet permasalahan yang terus bertambah hari demi hari.

Belum lagi kemerosotan dari sisi beragama seperti perdebatan para ulama, munculnya pondok pesantren liberal, penanaman nilai-nilai tidak islami di pesantren, penistaan agama merajalela, tindak kekerasan antar kelompok, bicaranya orang-orang bodoh tentang agama dan diamnya para ulama dan masih banyak lagi.

Baca Juga  Hak yang Tertunda: Potret Buram Kesetaraan Gender di Dunia Kerja

Tidak perlu mencantumkan data statistik dari setiap permasalahan. Cukup berselancar di mesin pencari pasti akan ketemu.

Dan dari peristiwa yang menimpa negeri ini ada sebagian golongan yang menyadari bahkan terus mencari solusi dan ada juga yang tanpa disadari golongan ini malah ikutan trend tersebut. Lebih paradoks lagi kita hidup di negeri mayoritas muslim.

Di mana letak paradoksnya? Di satu sisi kita bahagia karena kita muslim, di sisi lain kita sedih karena kita tidak melihat dan tidak mendapat nilai-nilai keislaman itu di sini.

Kita bukan hendak membandingkan dengan kehidupan zaman para salafus sholih, sangat jauh tidak terbandingkan walau setitik. Hanya saja, kita perlu melihat, berkaca dan mencontoh cara dan nilai-nilai kehidupan mereka. Dari mana lagi kalau bukan dari sejarah mereka.

Baca Juga  Kedaulatan Pangan di Persimpangan Jalan: Antara Impor dan Masa Depan Petani Indonesia

Nah, proses inilah yang dinamakan belajar. Tapi kan sudah banyak sekolah dan madrasah baru terlahir di negeri ini, artinya banyak santri banyak pelajar. Kok belum bisa mengatasi permasalahan? Ternyata selain belajar, ada beberapa hal lain yang harus kita hadirkan.

1. Meminta pertolongan Allah SWT

Para nabi mengajarkan kepada kita untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah dalam hal kebaikan apapun. Tidak ada yang dapat menghambat pertolongan Allah jika Allah sudah menolong. Nabi Musa ditolong Allah ketika dikejar Fir’aun kemudian Allah wariskan negeri mesir untuk mereka.

Nabi Ibrahim ditolong Allah ketika dibakar Namrud. Nabi kita tercinta Muhammad Shalallahu alaihi wasallam beserta sahabat ditolong Allah dalam Peperangan dan dianugerahkan ghanimah, fa’i dan diangkat kedudukannya. Untuk mencari referensinya, mari kita lihat dan pelajari Alqur’an dan Kisah para anbiya dan orang-orang sholeh yang mendapat pertolongan Allah.

Baca Juga  Pendidikan Islam Sebagai Pembentuk Karakter