Menghidupkan Malam Lailatul Qadar dengan Kualitas Ibadah dan Muhasabah Diri yang Optimal
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ )4( سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ )5
Artinya: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS al-Qadr: 4 – 5).
Lailatul Qadar merupakan sebuah keistimewaan yang Allah swt berikan kepada pengikut Nabi Muhammad saw. Ibadah di malam tersebut lebih bernilai dibandingkan ibadah seribu bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan.
Umat-umat Nabi yang lalu dapat beribadah dalam waktu yang lama di dunia ini, karena Allah SWT memberikan usia yang sangat panjang kepada mereka. S
ementara itu, umat Nabi Muhammad meskipun usia rata-rata mereka hanya sekitar 60 hingga 80 tahun, Allah memberikan anugerah Lailatul Qadar. Mendapatkan ganjaran ibadah seribu bulan dalam satu kesempatan Ramadan saja, dan ini mungkin telah melebihi umur orang-orang terdahulu.
Malam kemuliaan Lailatul Qadar hanya terjadi sekali pada setiap tahun di bulan Ramadan. Dan kita tidak tahu pasti kapan malam yang penuh berkah itu tiba, karena hingga sejauh ini belum ada satupun dalil baik Al-Qur’an maupun hadist yang menerangkan secara spesifik tibanya malam Lailatul Qadar.
Namun, ada peluang cukup besar bahwa kejadian itu berlangsung pada salah satu dari sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadan. Hadist Shahih yang diriwayatkan al-Bukhari menerangkan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: Carilah Lailatul Qadar itu di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. (HR al-Bukhari)
Banyak keistimewaan pada malam Lailatul Qadar yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diperuntukkan hanya kepada umat Nabi Muhammad Saw, karena umur kita ini pendek-pendek.
Untuk itu, mari kita saling muhasabah diri dan senantiasa memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan meningkatkan kualitas ibadah serta amalan-amalan baik di penghujung bulan Ramadan ini, diantaranya seperti shalat malam, iktikaf, tadarus Al-Quran, berdzikir, bersedekah, berbuat baik pada sesama, dan memperbanyak doa.
Adapun doa yang sangat dianjurkan dan diajarkan Nabi Muhammad Saw ketika malam Lailatul Qadar adalah memperbanyak doa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, Kitab An-Nasa’i, dan Kitab Ibnu Majah, dari Sayyidah Aisyah RA ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui datangnya Lailatul Qadar, apa yang harus ku ucapkan?” Beliau menjawab,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”
Dari Abu Hurairah, dari Nabi sallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan salat pada malam lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari no. 1901)
Ramadan akan tetap ada hingga berakhirnya seluruh kehidupan dimuka bumi ini. Namun yang jadi pertanyaannya, apakah kita yakin masih bisa dipertemukan pada bulan Ramadan di tahun-tahun berikutnya atau malah sebaliknya.
Tidak ada yang tahu dan tak ada satupun yang bisa menjamin akan takdir tersebut, melainkan hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala sang Maha Khaliq atas segala-galanya. Wallahu a’lam bishawab.
Semoga kita semua dapat memperoleh nikmat ibadah yang lebih baik dari seribu bulan itu dan dipanjangkan umur kita dengan penuh berkah, hingga bisa menjumpai kembali bulan Ramadan pada tahun-tahun berikutnya dengan konsistensi semangat beribadah yang tidak hanya di bulan Ramadan saja, melainkan juga di bulan-bulan lainnya. Aamiin Allahumma Aamiin
Penulis merupakan Kader Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bangka Selatan.
