Jabatan dapat pula berubah menjadi laknat tatkala pasca menerima tanggungjawab tersebut jabatan justru digunakan untuk membangun “istana kemungkaran”, maka bangunan neraka telah diciptakan.

Acap kali manusia akan kelihatan sisi aslinya ketika memperoleh jabatan.

Teringat pada sebuah quote dari Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln, yang menyatakan jika ingin melihat karakter asli seseorang adalah dengan memberikannya sebuah kekuasaan.

Sebelumnya, sisi asli watak diri bisa ditutupi dengan berbagai aksesoris kebaikan semu, namun setelah memperoleh jabatan justeru mempertontonkan watak asli yang sebenarnya.

Apalagi bila jabatan yang kita emban diperoleh dengan kemungkaran (untaian pundi-pundi dan negosiasi), maka dipastikan akan bermuara pada kemungkaran dan negosiasi pula.

Baca Juga  Melestarikan Budaya Lokal Melalui Literasi Budaya

Bila hal ini terjadi, kita sebagai rakyat akan menonton kemungkaran kolosal yang dibangun oleh sosok pemegang amanah dan orang yang mengemban amanah. Asesoris kemuliaan diri nan semu yang dipakai tak akan mampu menutup aib yang menganga.

Rasulullah pernah menasehati Abdurrahman bin Samurah.

Kata Nabi “Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau kasak-kusuk mencari jabatan karena bila engkau memperoleh jabatan tanpa kasak-kusuk engkau akan dibantu Tuhan. Allah akan menurunkan malaikat mendukung langkahmu.

Tetapi jika kamu diberi jabatan karena meminta atau kasak-kusuk maka beban jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu untuk memikulnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tidak lama setelah dilantik menjadi pemimpin umat, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu menyampaikan pidato pertamanya.

Baca Juga  Flexing Pendidikan Lebih Keren Ketimbang Flexing Harta

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku.”

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pun tidak terlihat gembira. Apalagi mengadakan pesta saat menerima amanah jabatan.

Sudah saatnya kita tidak menghambakan diri kepada jabatan. Meminta-minta amanah kepada pemberi amanah. Biarlah pemimpin yang menilainya.

Sudah bukan zamannya lagi mencari jabatan dengan lobi-lobi dan pendekatan yang tidak diiringi dengan kapasitas diri dan prestasi yang dihasilkan yang justru merusak dan menodai pemimpin yang memberikan amanah.

Memalukan pemimpin yang mengamanahkan jabatan karena ketidakmampuan kita dalam menjalankan amanah yang diberikan.

Baca Juga  Saat Akal Menunduk, Iman Tegak: Mengembalikan Wahyu sebagai Kompas, Bukan Sekadar Opini

Namun, terlepas apa pun, pilihan selalu ada pada diri kita sendiri . Semoga kita bisa berkaca atas diri masing-masing. Bisa introspeksi diri.

Sesungguhnya hidup kita antara azan dan azan. Kita hanya sedang menunggu antara azan tersebut.

Penulis yang tinggal di Toboali