Digitalisasi di Persimpangan Generasi: Spekulasi antara Gen Z dan Gen X
Di wilayah perkotaan, tidak menutup kemungkinan jika generasi X bisa beradaptasi mengikuti zaman. Beberapa orang berpendapat jika generasi X memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam pengerjaan ataupun tindakan.
Mengingat seberapa fatal efek dari digitalisasi apabila terdapat satu kesalahan kecil yang kemudian mulai menyebar. Sehingga diperlukan tindakan dari pengawas yang ketat agar bisa meminimalisir kesalahan yang ditimbulkan.
Jika dibandingkan dengan generasi Z, anak-anak yang masuk dalam generasi ini cenderung lebih aktif dalam menggunakan teknologi. Generasi yang sering dibilang open minded ini menjadikan pemahaman mereka lebih di atas rata-rata generasi X yang sebagian masih pasif dan lainnya masih berusaha beradaptasi.
Banyak aplikasi-aplikasi berbasis digital yang diciptakan oleh anak-anak dengan generasi Z dalam berbagai kategori seperti sosial media game, aplikasi edukasi dan lain sebagainya. Tentu itu sebagai suatu penanda perkembangan zaman yang mulai berubah seiring waktu.
Meskipun generasi Z dikenal dengan pemanfaatan teknologinya, ternyata generasi Z lebih rentan terkena berbagai macam modus penipuan atau peretasan daripada generasi X.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Dikarenakan keaktifan mereka dalam penggunaan teknologi, seperti media sosial yang membuat banyak sebagian akun mereka diretas ataupun banyak tautan tidak dikenal yang berakibat pencurian data (pishing).
Namun dengan diciptakannya media sosial, berbagai ilmu yang disebar oleh penggunanya mengenai teknologi untuk mencegah kejadian-kejadian tak terduga pada digitalisasi.
Hal itu menjadikan dampak positif bagi sebagian orang untuk dapat mencegah terjadinya modus penipuan atau hal-hal lain yang berbasis digital. Walaupun generasi Z saat ini masih pada industri 4.0 yang belum memasuki society 5.0, pada kenyataannya telah banyak sebagian mereka memanfaatkan teknologi.
Tentu teknologi dapat menjadi kesempatan bagi kalangan anak muda untuk menambah pendapatan, seperti membuat konten, berjualan online, mengerjakan pekerjaan paruh waktu dan lain sebagainya.
Anak yang tumbuh pada generasi Z cenderung tidak mudah menerima informasi yang tersebar melalui platform media sosial. Mereka lebih selektif dalam menggali informasi agar terhindar dari informasi yang salah dan menimbulkan kesalahpahaman.
Karena telah terbiasa dengan teknologi, mereka juga dapat membedakan jika sebuah video dibuat-buat atau sungguhan. Kepiawaian inilah yang menjadikan anak generasi Z lebih cakap terhadap teknologi yang berkembang.
Dari persimpangan generasi antara generasi X dan Z, dapat dilihat perbandingan keduanya memiliki ciri-ciri yang dominan berbeda. Meskipun hal ini mengacu kepada perkembangan teknologi, pada dasarnya tiap zaman memiliki kepiawaian yang baik pada setiap zamannya.
Dengan perkembangan zaman yang terus berkembang, hal itu kembali lagi kepada pengguna yang ingin beradaptasi atau tetap mengakar pada kehidupan tradisional.
Penulis merupakan mahasiswi Bisnis Digital Universitas Bangka Belitung.
