Tiga Karakter Seorang Pemimpin
Sebagai analogi yang lebih sederhana saja adalah seorang kepala dinas atau kepala badan di jajaran pemerintahan daerah.
Seorang kepala dinas harus bisa menjadi komandan yang baik bagi bawahannya. Bagaimana ruang dan waktu yang tepat untuk diterapkan sebagai sosok seorang komandan yang memberikan komando atau perintah kepada setiap level staf yang dipimpinnya.
Seperti memberikan perintah tugas sekaligus menetukan waktu untuk menyelesaikannya. Memarahi jika perintah yang diberikan tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
Sementara itu di kesempatan ruang dan waktu yang lain seorang pemimpin harus bisa berperan sebagai layaknya sosok orang tua yang dapat memberikan motivasi dan nasihat kepada bawahannya, bahwa pekerjaan yang akan dan telah dilaksanakan tersebut semata-mata bukan sekadar tujuan dalam mencari nafkah semata, tetapi lebih dari itu adalah sebuah amanah dan pengabdian sekaligus merupakan ibadah yang patut disyukuri.
Di sisi lain seorang pemimpin juga harus pandai untuk menjadi mitra atau teman bagi semua bawahannya. Tentunya dalam kondisi ruang dan waktu yang memungkinkan untuk itu.
Alhasil jika seorang pemimpin dapat melaksanakan tiga karakter tersebut, maka sangat bisa diyakini tujuan sebuah perangkat daerah dalam meraih kinerja yang optimal adalah sebuah keniscayaan.
Harmonisasi hubungan satu sama lain yang baik merupakan suatu modal yang utama dalam sebuah tim kerja sehingga terciptalah ekosistem kerja yang kondusif.
Tidak jarang terdengar perbincangan terkait sosok seorang kepala dinas atau kepala badan yang gagal menciptakan haronisasi di lingkungan kerjanya disebabkan ego sektoral masing-masing bidang. Di sinilah peranan penting seorang pimpinan untuk dapat memerankan tiga karakter tersebut.
Oleh karenanya sosok seorang pemimpin belum dapat diandalkan hanya dengan bermodalkan kecerdasan intelektual semata. Lebih dari itu kecerdasan emosional juga harus turut menyertai dalam upaya mendinginkan suasana di lingkugan kerja jika terjadi konflik internal. Pemimpin yang memiliki temperamental yang tinggi diyakini justru dapat merusak harmonisasi karena cenderung ada keberpihakan.
Selain itu seorang pemimpin juga harus memiliki kecerdasan spiritual yang diharapkan dapat berperan sebagai bentuk filterisasi sehingga akan terhindar daari perilaku dan perbuatan yang tercela. Seperti korupsi, manipulasi, suap dan penyalahgunaan kewenangan.
Tiga karakter tersebut merupakan modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam memimpin sebuah organisasi. Mulai dari organisasi terkecil seperti rumah tangga sampai kepada organisasi yang begitu besar seperti sebuah negara.
