Sehari di Kampung Adat Gebong Memarong
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” seruku saat turun.
Kami disambut hangat oleh Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Bangka Belitung, Bapak Doni Golput, S.E.
“Selamat datang, para pegiat literasi. Silakan masuk,” sambutnya ramah.
“Terima kasih, Pak,” jawab kami serempak.
Di Aula Gebong Memarong, kami terpukau melihat rumah-rumah adat yang tersusun apik. Narasumber Dato’ Elfian mulai berbicara tentang budaya lokal, legenda, hingga istilah “memarong”.
Hujan deras tiba-tiba mengguyur disertai petir. Para peserta tetap tenang, bahkan ada yang tertawa meski atap sedikit bocor. Dari kejauhan, tampak Pak Doni Golput berlari kehujanan menuju aula.
“Weh, kasihan Pak Kabid kehujanan,” ujar salah satu panitia.
“Dak ada payung,” katanya sambil tersenyum.
“Iya, tadi dipakai orang, Pak,” timpal Pak Fatur.
Hujan akhirnya reda. Para ibu menyajikan makanan khas kampung dengan piring kaleng, membuat suasana terasa nostalgia.
“Masya Allah, unik sekali tradisinya,” kagumku.
“Hehehe, iya,” jawab Kak Lilis.
Kami mengantre mengambil makanan. Aku penasaran dengan umbut Nibung.
“Kayak apa ya rasanya umbut Nibung itu?” gumamku.
“Nanti coba aja,” sahut Kak Lilis.
“Siap kak.” Ujarku.
Kami menyantap makanan bersama. Lezat tak terlukiskan. Bukan sekadar makan, tapi rasa syukur dan kebersamaan yang terasa.
Tangan menyuap, mata tertawa, hati pun penuh. Beberapa menit setelah makan selesai, kami kembali berkeliling kampung. Melihat-lihat, berfoto, dan menikmati suasana yang tak setiap hari bisa kami rasakan.
“Ikuttt!” seruku antusias saat para pegiat literasi dari Bangka Selatan mulai menyuarakan yel-yel andalan mereka.
“Bangka Selatan! Hape ngelawan, hape tekekep!” teriak mereka serempak dengan semangat yang membara, membuat orang-orang di sekitar terkagum akan kekompakan mereka.
Prok, prok, prok! Kami bertepuk tangan riang. Aku pun kembali menjelajahi sudut-sudut kampung adat gebong memarong, melihat satu persatu gubuk dengan rasa penasaran yang belum habis.
“Kak, tolong fotoin aku, ya,” pintaku sambil menyerahkan handphone.
“Satu, dua, tiga …,” katanya. Aku pun berpose sebaik mungkin.
Beberapa foto kemudian, terdengar suara panitia dari pengeras suara, memanggil peserta untuk mengisi absensi.
“Ayo-ayo, yang belum absen segera ya! Setelah itu langsung ke bus!”
Aku segera menuju aula.
“No berapa, Sayang?” tanya panitia ramah.
“No 9 … eh, maksudku nomor 7,” jawabku sambil terkekeh.
Usai absen, kami semua diarahkan menuju bus. Begitu semuanya lengkap, bus pun melaju kembali.
“Kawan-kawan, musiknya kita tunda dulu, ya, tunggu keluar dari zona tanpa sinyal,” ujar Pak Suparman Idris dari depan. Kami tertawa.
“Siap!” sahut peserta serempak.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sinyal kembali. Bus melaju mulus melewati jalanan yang mulai terasa familiar.
“Operator, musik!” seru Pak Arifin bersemangat.
“Lagu apa, nih?” tanya Ibu Prili.
“Dermaga Biru! Habis itu Bunga, terus Kehilangan!” teriak Pak Arifin sambil tertawa.
Musik pun mulai mengalun. Pak Arifin dan Pak Indra menyanyi duet, menghibur kami yang mulai lelah. Suara mereka mengalir sepanjang jalan, menambah hangat perjalanan pulang.
Beberapa dari kami menatap keluar jendela, menikmati pemandangan seperti Bukit Riau Silip, Pintu Sedulang, dan Taman Remangko.
“Asikkkk! Lagu ini buat para Dato’ dan Kepala Sekolah dari Payung, ya, Bapak Sumardoni, S.Pd!” celetuk Pak Arifin, disambut gelak tawa.
Langit siang makin cerah. Angin sejuk menyelinap lewat celah kaca. Saat kami melewati Pangkal Balam, deretan kapal yang bersandar membuat kami terpukau. Karaoke masih berlanjut. Tak peduli suara sumbang, yang penting kebersamaan.
Kami sempat berhenti untuk menurunkan Dato’ Elfian, narasumber utama hari itu.
“Hati-hati, Dato’!” seru kami.
“Terima kasih semua, saya pamit dulu ya,” balas beliau sambil tersenyum hangat.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Aku sempat terlelap, lalu terbangun dengan wajah kebingungan.
“Loh, kok lewat sini? Kayaknya tadi nggak lewat sini, deh,” gumamku.
“Memang lewat sini, kok. Kamu aja yang tadi tidur,” jawab Ibu Ledy sambil tertawa.
“Hahaha, tidur lagi aja, sana!” ejek Kak Lilis.
Tapi aku merasa tidak tidur. Seingatku, aku hanya menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan.
“Perasaan aku nggak tidur, deh …” batinku.
Mataku kini kembali segar. Aku mencatat momen-momen berharga ini di buku diary. Di dalam bus, suasana tetap meriah. Lagu demi lagu terus mengalun, tawa pun tak pernah berhenti.
Akhirnya, kami tiba kembali di BPMP Bangka Belitung. Satu per satu peserta turun, memeluk teman, mengucap selamat tinggal, dan menyisakan satu kalimat yang menggantung hangat:
“See you next time, gaissss!” seruku sambil melambaikan tangan.
Kami pun berjalan ke asrama, mengambil barang masing-masing. Sepuluh menit kemudian, kami berpisah, pulang ke rumah masing-masing. Aku pun kembali ke Simpang Rimba.
Namun, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan ke kampung adat. Ini adalah perjalanan hati penuh tawa, kebersamaan, dan cinta pada budaya.
Gebong Memarong tak hanya kami datangi, tapi kami bawa pulang dalam ingatan. Sebuah tempat yang akan terus mewarnai cerita kami.
Simpang Rimba, 31 Mei 2025
Putri merupakan alumni SMAN 1 Simpan Rimba, Bangka Selatan. Ia Aktif menulis dan sudah menerbitkan beberapa buku cerpen.
