Penulis: Putri Simba

Rasanya seperti mimpi aku bisa menginjakkan kaki di Kampung Adat Gebong Memarong. Selama ini, aku hanya mendengar namanya dari cerita orang-orang, membaca kisahnya, atau sekadar melihatnya lewat tayangan daring.

Aku belum pernah ke sana karena jaraknya yang cukup jauh. Bahkan, tak jarang aku menyebut namanya dalam doa selepas ibadah.

“Ya Allah, kapan aku bisa pergi ke Kampung Adat Gebong Memarong seperti orang-orang? Meski hanya sehari saja, aku sangat ingin ke sana.”

Hari-hari terus bergulir. Meski telah lulus SMA, harapan itu masih melekat dalam benakku. Suatu sore, saat sedang mengedit tulisan berita milik adik kelasku sambil menikmati camilan ringan, notifikasi dari grup Lokakarya Penulis Bangka Belitung, tiba-tiba muncul dan membuatku meneteskan air mata haru.

“Teman-teman, siapa yang berkenan ikut Bimtek tanggal 27–28 Mei 2025? Jika berminat, silakan list namanya di grup ini ya, dan utamakan semua peserta lokakarya,” tulis Bapak M. Faturrachman, S.H., selaku ketua panitia.

Dengan penuh semangat, aku langsung mencantumkan namaku. Beberapa minggu berselang, hari yang ditunggu pun tiba. Para peserta duduk di meja yang telah disiapkan, menyimak materi menarik dari narasumber luar biasa.

Hari pertama dipenuhi banyak ilmu baru dari para narasumber hebat di antaranya yaitu Dr. Yan Megawandi, S.H., narasumber pertama yang membahas seputar cerita rakyat.

Baca Juga  Ibu, Cintamu Tak Terhitung

Hendra, narasumber ke-2, membahas seputar Jurnalistik, Kakak Surya Eka Prayoga, narasumber ke-3 tentang EYD sesuai KBBI.

“Kak Lilis, tunggu aku!” seruku memanggil kakak senior dari DLI Batch 1.

“Iya, Put …,” sahutnya singkat.

Kak Lilis sabar menungguku yang sedang mengisi daftar hadir. Dua menit kemudian, aku bertanya pelan:

“Kak, nanti kita pulang naik apa?”

“Mungkin ojek. Tapi kayaknya Ibu bawa mobil, deh,” jawabnya.

Baru saja kami menyebut nama Ibu Siti, beliau tiba-tiba muncul.

“Bu, Ibu bawa mobil, kan? Boleh nebeng sampai penginapan?” tanyaku.

“Iya, boleh,” jawab Ibu Siti dengan ramah.

Kami segera masuk ke mobil. Tak lama, tibalah kami di penginapan dan berpamitan kepada Ibu Siti.

“Terima kasih, Bu, sudah mengantar kami,” ucap kami kompak.

“Sama-sama,” balas beliau.

Setelah melambaikan tangan, kami menuju kamar. Suasana penuh tawa pun tercipta antara aku, Kak Lilis, dan Ibu Ledy. Riuh canda mengisi kamar, mungkin sampai terdengar ke tetangga sebelah/depan.

“Wah, kalau Kak Lilis dekat aku, kayaknya nggak bisa tidur, deh,” candaku sambil tertawa.

Kak Lilis hanya tersenyum sambil menatap ponselnya. Di tengah tawa, Ibu Ledy ternyata sudah terlelap. Melihatnya, aku pun ikut terpejam.

Baca Juga  Mati Suri

“Put …,” panggil Kak Lilis.

Tak ada jawaban. Ya, aku sudah tertidur. Karena semua sudah lelap, Kak Lilis pun menyusul. Waktu terus berjalan. Lalu terdengar suara yang tak asing …

“Allahu Akbar, Allahu Akbar ….”

Adzan subuh berkumandang, memecah keheningan. Aku terbangun dan mendapati Ibu Ledy telah selesai berwudu dan salat. Segera aku menyusul, mengambil air wudu dalam sunyi yang hanya ditemani suara gemericik air. Usai salat, aku mandi pagi-pagi.

“Putri! Mobilnya udah datang, ayo cepat!” teriak Kak Lilis.

“Iya, bentarr!” jawabku dari kamar mandi.

Kubuka pintu dan melirik, “Lho, mana busnya?” tanyaku heran.

“Hahaha, belum datang. Bercanda doang. Lagian, mandinya lama, sih, seperti artis aja,” jawab Kak Lilis sambil tergelak.

Aku hanya bisa menghela napas kesal. Bu Ledy tertawa geli. Kami pun bersiap dan turun ke bawah menunggu bus.

“Bu, yuk lihat pohon alpukat kemarin,” ajakku.

“Ayo, gas!” sambut Bu Ledy.

Kami menuju pohon itu. Terlihat buahnya beberapa sudah ada yang tua, tetapi sayangnya tinggi menjulang di ujung deket atap.

“Bu, aku panjat, ya?”

“Jangan, nanti jatuh, Put,” cegah Pak Agustian, pegiat literasi dari Bangka Selatan.

Baca Juga  Tanah Timah Mengulang Usia

“Baik, Pak,” jawabku.

Kami kembali ke asrama. Di sana, banyak yang sibuk berfoto, ngobrol, dan memetik jambu Jamaika yang tumbuh subur di sekitar penginapan.

“Ayo kita foto!” ajakku.

“Boleh!” timpal rekan di sampingku.

“Wah, kayak keluarga Cemara,” canda Bu Zika.

“Keluarga bahagia,” sambungku.

Pak Fatur lalu memberi aba-aba agar kami segera menuju bus. Langkah kaki terdengar serempak.

“Wih, yang depan cepat sekali!” seloroh Pak Fatur.

“Iya, Pak. Biar dapat kursi depan,” jawabku.

Aku memilih duduk di depan, satu bangku dengan Ibu Ledy.

“Wah, Putri duduk di depan, ya,” komentar Pak Ahmad Gusairi guru dari SMAN 1 Toboali.

“Iya dong, Pak. Biar bisa melihat pemandangan,” jawabku antusias.

Semua pegiat literasi telah naik. Bus pun melaju. Suasana langsung hidup: tirai jendela dibuka, ada yang menikmati hijau hutan, ngobrol, hingga karaoke bersama.

“Bu, kayaknya seru kalau bikin cerpen soal perjalanan ini,” kataku.

“Menarik, coba aja,” sahut Bu Ledy.

Suara emas Pak Arifin menggema:

“Moderatorrrr, ganti lagu!”

“Siap!” timpal Bu Prili.

Tawa, nyanyian, dan cerita bersatu. Tanpa terasa, kami pun tiba di sebuah gapura kayu bertuliskan:

“Selamat Datang di Kampung Adat Gebong Memarong.”