Keempat: masyarakat yang selama ini bergantung pada laut memerlukan sumber alternatif baru. Bukankah 70% penduduk Lepar adalah nelayan. Merekalah yang paling merasakan dampak kerusakan ekosistem, dengan hasil tangkapan yang turun 40% dalam 10 tahun berdasarkan data (DKP, 2023).

Kelima: Pulau Lepar merupakan lokasi strategis untuk dijadikan percontohan. Ukuran pulau yang ideal dengan luas Lepar sekitar 12.000 hektare, rasanya tidak terlalu besar, sehingga mudah dikelola, tapi tidak terlalu kecil sehingga dampaknya cukup signifikan. Selain itu Lepar juga belum terkontaminasi oleh pariwisata massal. Agak berbeda dengan destinasi seperti Tanjung Kelayang yang sudah padat, Lepar masih “kanvas kosong” yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Baca Juga  Kemerosotan Akhlak, Etika dan Moralitas Pelajar

Pulau Lepar: Dari Krisis ke Proposal

Mungkinkah ke depan kita bisa berharap banyak dari ujung selatan Pulau Bangka. Layaknya mengharapkan munculnya Si Manis Mutiara dari Selatan. Lepar terbentang seperti sepotong dunia yang nyaris terlupakan. Tidak ada deru alat berat, tidak ada lampu kilau kota, hanya ada suara laut dan hutan mangrove yang masih tersisa, walau sejumlah kawasan telah digarap sebagai perkebunan sawit namun masyarakat kecil tetap mencoba bertahan hidup.

Luka tambang timah membuka tabir selama ini: bahwa ekonomi ekstraktif bukan hanya membuat kita tergantung, tapi juga tak berdaulat. Maka pertanyaannya: apakah kita akan mengulangi kesalahan yang sama di Lepar, atau kita siap memulainya dari paradigma baru?

Baca Juga  Darurat Sampah di Pangkalpinang: Analisis Kegagalan Kebijakan dan Solusi Berkelanjutan

Lepar menawarkan alternatif. Bukan hanya soal ekonomi biru, tetapi ekonomi yang bermartabat. Sebuah laboratorium kebijakan di mana nelayan dapat menjadi penjaga ekosistem, bukan perusaknya. Di mana bakau dianggap sebagai tabungan masa depan, bukan lahan kosong. Di mana masyarakat lokal tidak hanya jadi objek pembangunan, tapi aktor utama perubahan.

Bagaimana jika ada pihak yang berani mengusulkan: jadikan Lepar sebagai “Proyek Percontohan Blue Carbon Bangka Belitung”. Sebuah kebijakan lintas sektor yang memadukan restorasi ekosistem, pemberdayaan masyarakat, ekowisata, dan perdagangan karbon.

Bukan hanya untuk menyelamatkan Lepar, tapi untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita tidak tinggal diam. Bahwa dari tanah yang selama berabad-abad dulu dieksploitasi, bisa lahir kebijakan yang memulihkan. Inilah saatnya Bangka Belitung berbicara dengan narasi baru: bukan lagi daerah tambang, tetapi provinsi perintis transisi ekonomi biru.

Baca Juga  Kotaku, Surat Buat yang Lupa

Semoga saja peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini bukan lagi soal seremoni, tapi keputusan: apakah kita akan terus menggali tanah hingga tak bersisa, atau mulai merawat pesisir dan menyelami laut untuk menyelamatkan masa depan?

Pulau Lepar telah menunggu. Tinggal siapa yang berani memulai. Salam takzim.