Ketika Logam Lebih Berharga dari Lautan
Ketika Logam Lebih Berharga dari Lautan
Oleh: Salsabila Aulia Putri — Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Kontroversi Tambang Nikel di Raja Ampat: Ketika Alam dan Kepentingan Bertabrakan
Raja Ampat, Papua Barat Daya – di tengah keindahan gugusan pulau-pulau Raja Ampat yang telah lama dikenal sebagai surga bawah laut dunia, muncul kekhawatiran baru yang mencemaskan banyak pihak: rencana penambangan nikel yang mengancam keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat lokal.
Pada awal 2024, izin usaha pertambangan (IUP) untuk eksplorasi nikel di wilayah Waigeo, salah satu pulau utama di Raja Ampat, kembali menjadi sorotan. Meski pemerintah pusat berulang kali menegaskan pentingnya hilirisasi industri nikel sebagai strategi nasional, banyak pihak menilai bahwa membuka lahan tambang di kawasan sepeka Raja Ampat adalah langkah yang terlalu berisiko — bahkan bisa dikatakan gegabah.
Kekayaan Alam yang Tak Tergantikan
Raja Ampat bukan sekadar gugusan pulau dengan pasir putih dan laut biru jernih. Wilayah ini adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Menurut sejumlah penelitian, lebih dari 75% spesies karang dunia dapat ditemukan di perairan Raja Ampat. Belum lagi keanekaragaman ikan, mamalia laut, dan ekosistem mangrove yang saling terkait secara rapuh.
