Ilusi Data dan Hilangnya Nyawa: Kritik atas Kemandulan Inventarisasi Vertebrata di Tengah Krisis Ekologi
Ilusi Data dan Hilangnya Nyawa: Kritik atas Kemandulan Inventarisasi Vertebrata di Tengah Krisis Ekologi
Oleh: Rayhan Rizaki — Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Bangka Belitung
Inti dari wacana pembangunan berkelanjutan dan janji konservasi adalah ironi yang menganga: inventarisasi satwa liar vertebrata. Kenyataannya, aktivitas ini adalah fondasi ekologi, tulang punggung strategi penyelamatan keanekaragaman hayati.
Namun dalam praktiknya, inventarisasi sering kali berakhir sebagai tumpukan data diam, serangkaian angka yang disimpan dengan hati-hati dalam basis data, tanpa dampak signifikan yang dapat membalikkan laju kepunahan.
Kita sibuk mencatat, menghitung, dan memotret, tetapi pada saat yang sama, auman harimau Sumatera semakin pelan, dan pelukan orangutan Kalimantan semakin terancam punah.
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah inventarisasi kita benar-benar berfungsi sebagai alat penyelamat hidup, atau apakah inventarisasi itu sekadar ritual ilmiah yang menenangkan hati sambil menyembunyikan kegagalan struktural yang lebih besar untuk melindungi kehidupan di planet ini?
Realitas di lapangan jauh dari kata ideal. Inventarisasi sering kali terjebak dalam angka. Kami dengan bangga menyajikan daftar spesies yang panjang, peta distribusi terperinci, atau grafik pertumbuhan dan penurunan populasi. Ambil contoh harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Selama bertahun-tahun, data ekstensif telah dikumpulkan tentang penurunan populasi yang mengkhawatirkan, fragmentasi habitat yang parah akibat penggundulan hutan, dan ancaman perburuan liar yang terus berlanjut. Para ahli tahu persis berapa banyak yang tersisa, di mana sudut-sudut hutan terakhir berada, dan koridor mana yang rusak.
Namun, apakah ketersediaan data yang tepat ini secara otomatis menghentikan laju penggundulan hutan yang brutal yang merenggut kehidupan dari hutan purba setiap hari? Bisakah itu menghentikan perburuan liar besar-besaran yang terus mengancam kelangsungan hidup predator puncak ini?
Sayangnya, hal ini sering kali tidak terjadi. Data ini sering kali berakhir di meja peneliti, dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi atau sebagai lampiran laporan proyek yang komprehensif, tanpa tindakan tindak lanjut yang konkret dan mengikat.
Pemahaman ekologis yang mendalam yang seharusnya menjadi inti dari semua upaya inventarisasi sering kali hilang. Inventarisasi seharusnya tidak hanya berfokus pada “berapa banyak” atau “di mana,” tetapi juga pada “bagaimana” dan “mengapa.”
Bagaimana interaksi kompleks antara spesies terganggu oleh perubahan lingkungan? Mengapa populasi menurun drastis di beberapa daerah? Bagaimana efek kumulatif dari aktivitas manusia, dari perluasan pertanian hingga pertambangan dan pembangunan infrastruktur, memecah ekosistem dan mengisolasi populasi? Jenis analisis komprehensif yang seharusnya menjadi dasar inventarisasi sering kali terpinggirkan. Terlalu sering, kita melihat pepohonan tetapi tidak hutannya.
Inventarisasi juga sering dilakukan secara sepotong-sepotong, reaktif, dan terfragmentasi, alih-alih secara proaktif dan holistik. Proyek inventarisasi sering kali muncul ketika krisis sudah di depan mata, ketika hutan telah ditebang, sungai telah tercemar, atau spesies telah mencapai ambang kepunahan kritis.
