Plato dalam karyanya “Republik”, menggambarkan politik sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan harmonis, dengan penekanan pada peran filsuf-raja. Sementara Aristoteles dalam karyanya “Politik”, membahas tentang berbagai bentuk pemerintahan dan menekankan pentingnya keseimbangan dan moderasi dalam politik.

Jadi, jika zaman sekarang politik itu identik dengan korupsi, kekerasan dan permusuhan, maka itu berarti telah terjadi biased makna atau telah terjadi paradoks dalam praktik politik itu.

Politik telah makin jauh dari substansinya. Oleh karena itu, politik harus diluruskan kembali sebagai pengambilan keputusan secara damai, teratur dan stabilitas yang pada ujungnya sebagai “alat” kebaikan kemaslahatan/manfaat bersama.

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan

Pengkhianatan sebetulnya tidak hanya terjadi dalam dunia politik. Pengkhianatan dapat juga terjadi pada kaum terdidik_kaum cendekiawan.

Julien Benda seorang intelektual Perancis pernah menyatakan, bahwa kaum cendekiawan pun banyak yang menjadi pengkhianat yaitu tatkala mereka terlibat dalam kancah politik dan melupakan tugasnya sebagai penjaga moral intelektual.

Baca Juga  Menanti Kedamaian bagi Penjaga Perdamaian

Dalam hal ini, kehadiran seorang cendekiawan seharusnya dapat menjaga moral, ilmu dan etika (akhlaknya) manakala dia terlibat dalam politik praktis.

Jika seorang cendekiawan terlibat dalam politik tetapi justru dia larut dan bahkan menghancurkan politik itu_dengan tak menjaga moral intelektualnya maka dia tergolong pengkhianat karena tidak menjaga marwah ke-intelektualannya.

Karl Mannheim, sosiolog kelahiran Hungaria pernah juga menyatakan bahwa cendekiawan yang tidak terlibat dalam kerja-kerja praksis dapat disebut sebagai pengkhianat karena hanya menyuarakan kebenaran dari menara gading ilmunya.

Bagi Mannheim seorang cendekiawan suka tidak atau mau tidak mau harus terjun dalam dunia politik terutama jika menyaksikan politik mulai menyimpang dari esensinya.

Dengan terjun ke dunia politik itu, maka menjadi kesempatan baginya untuk menguji, meluruskan sekaligus menjaga moral dan etika politik tetap dalam koridornya (on the track).

Baca Juga  Ketika Pelindung Menjadi Pemangsa

Mannheim sangat tidak setuju kalau cendekiawan hanya duduk manis, hanya berpangku tangan memandang situasi politik tanpa menyentuhnya. Menara gading sebagai istana cendekiawan, baginya tabu. Jika ada cendekiawan yang berperilaku demikian maka dia telah menjadi berkhianat secara moral intelektual.

Satu lagi nama, Antonio Gramsci_filsuf Italia yang menyatakan bahwa seorang cendekiawan bertugas menghubungkan ketidakpuasan individual ke dalam bentuk aktivisme sosial kolektif.

Jadi, kaum cendekiawan itu menjadi penyeimbang antara para politisi yang sering tak memiliki argumen dalam membuat kebijakan dengan memberi bobot (moral, etika, amanah berpihak kepada rakyat) kebijakan itu sehingga tidak keluar dari koridornya.

Pentingnya cendekiawan terjun dalam praksis politik itu tak lain agar konsep-konsep kebijakan (legislasi), hukum tetap terjaga secara moral, etik, berkeadilan untuk kesejahteraan orang banyak.

Baca Juga  Guru Kreatif, Siswa Aktif: Kunci Mengajar Bahasa Inggris Secara Menyenangkan

Penutup

Dalam konteks pengkhiatan di Indonesia, cukup banyak nama-nama cendekiawan yang memiliki ilmu di berbagai bidang tetapi begitu terjun ke dunia politik__justru dia sendiri yang menghancurkan itu. Ilmu seolah tak berbekas dalam dirinya, sikapnya dalam politik sangat pragmatis.

Bahkan ia terjebak dan ikut arus dalam kesesatan politik yang ada. Tak jarang mereka terlibat dalam korupsi, kolusi dan nepotisme. Marwahnya sebagai intelektual sama sekali tak nampak. Sangat paradoks dengan dunia intelektual yang digekutinya sebelum terjuan ke politik atau menjadi pejabat negara.

Tentu jauh lebih banyak lagi para intelektual yang tidak peduli pada politik atau masalah kenegaraan lainnya, mereka tetap saja berada di menara gading walau apapun yang terjadi.  Sikap ini sebagai opsi yang paling aman bagi dirinya. Bagi para filosof yang penulis sebut diatas mereka tetaplah kaum pengkhianat.