Begini Kata Harwendro soal Pemanfaatan Mineral Strategis Logam Tanah Jarang
Begini Kata Harwendro soal Pemanfaatan Mineral Strategis Logam Tanah Jarang
JAKARTA, TIMELINES.ID — Kandungan mineral strategis yang dimiliki Negara Indonesia dinilai cukup tinggi dari Sisa Hasil Produksi (SHP). Khususnya Rare Earth Elements (REE) atau Logam Tanah Jarang (LTJ) yang selama ini terbuang tanpa pemanfaatan optimal.
Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) menilai, ada dua hal yang harus dipahami terlebih dahulu pada SHP. Apakah kandungan itu terdapat di hasil penambangan atau produksi. Sebab, kalau pertambangan darat, AETI telah memanfaatkan mineral kritis tersebut.
“Kalau di darat, perusahaan kita sendiri semua sisa hasil produksi itu kami olah sendiri dan pisahkan sendiri. Sehingga sampai sekarang, komponen tanah jarang itu, itu masih disimpan di pabrik kami,” ungkap Ketum AETI, Harwendro Adityo Dewanto, Selasa (30/9/2025).
Dilansir dari Youtube CNBC Indonesia di dalam program Minning Zone, ia mengatakan kesulitan yang dirasakan dalam memanfaatkan mineral kritis ini pada pertambangan laut. Hal ini dikarenakan meski biaya produksi tinggi, kandungan yang bisa diserap hanya biji timah.
Alasannya karena hingga saat ini tidak ada teknologi yang dapat memisahkan antara timah dan logam tanah jarang di sebuah kapal. Terkait peleburan sendiri bisa dikatakan semua eksportir telah melakukan hal yang sama. Sisa hasil produksi masih tersimpan dengan baik.
“Disimpan karena belum ada regulasi yang mengatur. Karena mengandung radioaktif yang sangat tinggi sehingga kami tidak berani untuk bergerak lebih jauh. Sampai ada aturan-aturan yang menaungi kita dari Kementerian ESDM, pemerintah dan pemanfaatan,” ujarnya.
Disampaikan Politisi Gerindra tersebut, pada dasarnya potensi pemanfaatan komponen logam tanah jarang sangat kecil. Sebab, logam ini adalah mineral ikutan yang menempel pada biji timah. Seperti halnya yang tersebar di Babel dan provinsi lain di wilayah Indonesia.
Hasil studi yang dilakukan, AETI sendiri hanya bisa membangun satu pabrik pengolahan mineral ikutan. Terlebih di PT Timah sendiri telah membangun pabrik tersebut. Bukan tidak mungkin AETI sendiri akan mengirim logam itu ke perusahaan BUMN tersebut.
Di sisi lain, Harwendro menyebut kandungan mineral biji timah di Pulau Belitung saat ini kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Pasalnya, produksi biji timah di Negeri Laskar Pelangi itu tercatat capai 1.000 ton oleh Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI).
