Peran Guru dalam Pandangan Ki Hajar Dewantara
Ruang gerak guru kini bukan hanya di dunia nyata saja, tetapi juga berada di ruang maya. Oleh sebab itu, pandangan ini tetap harus menjadi pegangan teguh seorang guru, baik pada saat ia berada di dunia nyata, maupun saat berada di dunia maya (contohnya pada saat berada di ruang media sosial; facebook, Instagram, tiktok, youtube, dan lain sebagainya).
Sekarang, sering terlihat guru yang nyaris lupa jati dirinya sebagai seorang guru pada saat sedang berada di dunia maya sebagai bagian dari perkembangan teknologi, sehingga pada beberapa kasus, beberapa guru justru memberikan contoh yang tak patut untuk ditiru.
Pada pandangan yang kedua (ing madyo mangun karso), seorang guru harus dapat memposisikan dirinya pada titik sentral pendidikan yang sesungguhnya. Menjadi seorang guru bukan hanya berinteraksi dengan peserta didik pada saat jam pelajaran sedang berlangsung saja, tetapi juga harus selalu ada pada setiap kondisi.
Di sinilah letak tugas mulia seorang guru sesungguhnya. Dengan kata lain, guru bukan hanya selesai menjelaskan materi pelajaran tertentu, lalu setelahnya ia melepaskan khitahnya sebagai seorang guru, tetapi juga harus mampu memotivasi dan menginspirasi.
Artinya, seorang guru harus selalu berada di tengah-tengah, memberikan rasa nyaman, tidak menjaga jarak tetapi tetap menjunjung tinggi etika, sehingga proses mendidik akan lebih kolaboratif. Guru harus mau menjadi pendengar yang baik, sebab seringkali ada masalah-masalah tertentu yang dihadapi oleh peserta didik yang apabila tidak direspon dengan baik, dapat berakibat fatal.
Terakhir, pada pandangan yang ketiga (tut wuri handayani), dan ini tidak kalah penting, bahwa guru harus selalu ada tak mengenal waktu. Ibarat hubungan antara orang tua dan anak, maka ada masa ia harus tetap berada di pengawasan orang tua, tetapi masa ia akan bebas adalah hal yang tak dapat dihindari.
Demikian pula dengan guru. Maka tidak ada istilah “mantan guru”, demikian pula tidak ada istilah “mantan murid”, semua berlaku kekal dan abadi. Oleh sebab itu, seorang guru harus pandai-pandai dalam mengatur ritme dalam mendidik. Ia harus memahami, kapan seorang murid harus selalu diawasi, dan kapan ia harus diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang.
Secara formal, mungkin misalnya ia sudah lulus sebagai murid di sekolah, tetapi ia tetap murid yang tetap harus diberikan dukungan, arahan, dan dorongan moral untuk mencapai cita-cita yang sudah ia ukir sejak lama, dan mungkin ukiran itu ia pahat bersama guru.
Peranan dan Guru di Masa Kini
Memilih menjadi guru sama artinya dengan siap untuk ditiru. Layaknya seorang influencer (meminjam istilah terkini bagi figur pemengaruh di media sosial), maka seorang guru bagi murid-muridnya merupakan sosok teladan yang setiap ucapan dan tindakannya berkonkesunsi bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi lingkungan di sekitar, lebih-lebih kepada murid yang memang memiliki hubungan saling menguntungkan; guru mengajar, dan belajar dilakoni oleh murid.
Bagi seorang murid, pelajaran yang dapat disaring dari guru bukan hanya ilmu yang dijabarkan di depan kelas, tetapi juga sikap dan perilaku. Pada skala yang jauh lebih makro, masyarakat umum adalah pihak yang turut menjadi guru sebagai referensi dalam bertindak dan bertutur kata. Oleh sebab itu, guru memang memiliki peranan yang bukan hanya ganda, tetapi sudah multi dan ada di segala lini.
Seorang guru dengan demikian harus dapat membedakan antara peran dan peranan. Peran terletak pada status sebagai guru. Status guru selalu ada pada seseorang yang sejak semula memang memutuskan untuk menjadi guru, bukan hanya di ruang-ruang formal, tetapi juga di setiap ruang di mana seorang guru itu berada.
Sementara itu, peranan berada pada dimensi yang jauh lebih aktif, bahwa sebagai seorang guru, maka seorang guru memiliki peranan bukan hanya bagaimana menjadi seorang peserta didik menjadi berilmu dan beradab, tetapi juga harus dapat menjaga nilai-nilai luhur ia sebagai seorang guru.
Peran guru sejatinya tidak mengalami transformasi yang signifikan dari masa ke masa, tetapi peranan gurulah yang dituntut harus dan selalu adaftif. Hadirnya teknologi yang selalu ada kebaharuan dari waktu ke waktu, adalah salah satu tantangan terbesar, terbaru misalnya dengan hadirnya Artificial Intellegence (AI).
Guru harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman, bukan dihindari. Agar guru tidak tertinggal, atau barangkali secara teknologi malah murid yang jauh lebih memahami dan menguasai, penguasaan teknologi terkni juga harus ada pada seorang guru.
