Festival literasi, penghargaan hingga support anggaran pun dibahas. Meski pansus itu hanya dihadiri tiga wakil rakyat dari delapan anggota pansus, diskusi berjalan cukup aktif.

Datuk Rusmin memaparkan Bangka Selatan harus bangga, karena satu-satunya kabupaten di Bangka Belitung pada tahun 2023 lalu ditunjuk Perpusnas RI menggelar Lomba Menulis Inkubator Literasi Pustakan Nasional.

Kegiatan ini biasanya digelar setingkat provinsi di Indonesia. Tak hanya itu, Bangka Selatan satu-satunya kabupaten di Bangka Belitung yang mendapatkan penghargaan nasional sebagai Kabupaten Pelestari Bahasa Daerah.

Penghargaan itu didapat berkat perjuangan para siswa berprestasi didampingi guru-guru yang hebat di Bangka Selatan. Sebut saja, ada pengajar hebat dari Tukak Sadai, Husna dan Ledy Diana dari Kecamatan Payung.

Baca Juga  Mengapa Blue Ocean Strategy Menjadi Kunci Sukses di Sektor Ritel?

Berkat mereka dan guru lainnya, para siswa Negeri Junjung Besaoh mendominasi sejumlah perlombaan Festival Tunas Bahasa Ibu di Kantor Bahasa Bangka Belitung.

Prestasi itu bagian dari gerakan literasi di negeri ini, meski kadang perjuangan ini hanya dipandang sebelah mata. Angin segar itu muncul bersamaan dengan hadirnya rencana pembentukan Perda Literasi.

Namun yang harus diingat adalah sebaik-baiknya Perda Literasi ditetapkan, jika tidak ada dukungan anggaran pemerintah daerah, percuma saja. Perda yang diketuk palu dengan menghabiskan dana ratusan juta bahkan mungkin miliaran uang rakyat itu, akhirnya akan kembali menghiasi rak-rak buku di kantor wakil rakyat.

Seperti kopi hitam yang disuguhkan saat rapat akan dimulai tadi. Kopi wakil rakyat ini akan habis dalam beberapa tegukan saja. Berbeda dengan kopi literasi, kopi dengan semangat gerakan literasi untuk menciptakan SDM Bangka Selatan yang mumpuni.

Baca Juga  Dari Timah ke Wisata: Mendorong Ekonomi Kreatif sebagai Pilar Baru Bangka Belitung