Aku ‘kan berusaha mengejar mimpi kita, Ibu …
Bukan untuk namaku, melainkan untuk doamu
Yang takpernah lelah mengetuk pintu langit
Kelak, ketika namaku di panggil dengan gelar impian itu
Biarlah dunia mengetahui
Di sana ada namamu yang lebih dulu berdiri.

Jika suatu hari rambutmu mulai memutih sepenuhnya
Biarkanlah aku, putri pertamamu, yang berdiri dibelakangmu
Jika suatu hari langkahmu gemetar
Biarlah aku yang menahan dunia untukmu

Karena dua puluh tahun lalu
Engkau melakukan itu untukku
Tanpa suara, tanpa janji dan hitungan
Hanya dengan cinta
Yang takpernah meminta balasan

Ibu, aku mencintaimu
Sebelum aku mengenal bahasa
Aku mencintaimu hari ini dengan penuh air mata
Dan aku akan selalu mencintaimu.
Hingga waktu menyerah, menyebut akhir kata.

Baca Juga  Pantun: Laki Bini Banyak Becekau

Pangkalpinang, 22 Desember 2025