Kabar yang beredar di masyarakat pun tak kalah getir. Konon, banyaknya izin toko jaringan waralaba itu juga punya hitung-hitungan sendiri. Ada rupa. Ada harga. Itu kata orang. Berita burung, memang. Kebenaran dan harga satu izinnya, silakan cek sendiri ke pemilik toko-toko itu.

Belakangan, setelah menonton tayangan seorang kawan yang juga budayawan daerah, namanya Ahmadi Sofyan, atau yang lebih akrab disapa Atok Kulop, di media sosial, ingatan saya tentang kebanggaan-kebanggaan kecil itu kembali menyeruak. Atok Kulop dalam tayangannya menggambarkan betapa sulitnya toko kelontong tradisional bertahan. Mereka menyerah, bukan karena malas, tetapi karena keadaan yang tak memberi pilihan.

Di titik itulah saya bertanya pada diri sendiri, lalu kebanggaan apa lagi yang kini bisa saya ceritakan kepada para tamu, jika suatu hari saya kembali mendampingi mereka berkeliling daerah ini?

Baca Juga  Pelestarian Burung Cenderawasih: Menjaga Martabat Budaya dan  Masa Depan Hutan Papua

Akankah saya bangga bercerita tentang kasus korupsi tata niaga timah yang nilainya setara dengan tiga abad APBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sekitar Rp300 triliun?

Ataukah saya harus membanggakan fakta unik bahwa hanya di Bangka saja di dunia ini yang ada bandara yang menjadi kawasan pertambangan timah?

Atau mungkin saya perlu menceritakan bahwa timah di pulau ini bisa ditambang di mana saja: di hutan lindung, di pantai, di laut, di sungai, bahkan di belakang kantor aparat penegak hukum dan di belakang rumah ibadah? Catatannya hal-hal itu bisa dilakukan tanpa perlu khawatir akan dimejahijaukan.

Atau saya ceritakan saja keunikan politik lokal kita, tentang peristiwa langka baik di nusantara maupun di dunia, di mana ada kotak kosong yang begitu perkasa hingga mampu menundukkan lawannya yang benar-benar manusia dalam sebuah pemilihan langsung kepala daerah? Kotak kosong itu kemudian berhasil membuktikan bahwa sistim pemilukada kita ternyata masih belum sempurna. Lalu akan digantikan dengan sistem yang (amit-amit), tidak langsung alias melalui DPRD?

Baca Juga  Kritik Itu Penting, Ngalok Bukan Pilihan

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala. Menggelisahkan, tapi nyata. Namun saya tahu, saya tidak boleh larut dalam pesimisme. Pulau ini terlalu berharga untuk diserahkan pada keputusasaan. Saya memilih satu jalan yang tersisa yaitu mencoba berpikir positif, sembari tetap jujur pada kenyataan.

Saya akan berdoa. Agar daerah ini kembali maju dan unggul. Bukan hanya di sektor ekonomi, tetapi juga politik dan sosial budaya. Agar kebanggaan-kebanggaan kecil itu bisa tumbuh kembali, mungkin dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan ruh yang sama, keteraturan, keadilan, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Dan saya percaya, salah satu syarat agar doa itu cepat dikabulkan adalah hadirnya pemimpin-pemimpin daerah yang sehat secara jasmani dan rohani, jernih akalnya, bersih hatinya, dan amanah dalam tindakannya. Pemimpin yang tidak sekadar pandai berbicara tentang pembangunan, tetapi paham akan makna menjaga. Semoga. Salam takzim.

Baca Juga  Lingkungan Terancam! Pangkalpinang dan Krisis Sampah Plastik yang Makin Parah