Bara yang Membara: Suara Hilang Tetap Bergema

Oleh: Agus Bachtiar Kurniawan — Sang Pengulik Pena Tinggal di Toboali Bangka Selatan

Setelah menyelesaikan studi di kota pelajar, aku memutuskan untuk pulang. Membawa sepanggul harapan dan rasa bangga bisa membahagiakan orang tua karena anaknya berhasil menjadi sarjana.

Aku anak tunggal. Bapakku seorang buruh serabutan. Penghasilannya tak bisa dipastikan. Dengan tekad dan kemauan keras, aku bersikukuh untuk melanjutkan studi. Akhirnya aku bisa melanjutkan kuliah melalui jalur mahasiswa berprestasi. Ibuku juga tak mau berpangku tangan, ia berjualan sayur mayur kecil-kecilan di depan rumah untuk tambahan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi keluarga yang sederhana inilah yang menjadi dorongan semangat bagiku untuk merubah nasib. Aku harus menjadi “orang” dan bisa menerapkan ilmu pengetahuanku. Paling tidak di lingkup desa.

“Berdasarkan rekapitulasi hasil perhitungan suara, ketua dan wakil ketua Karang Taruna terpilih desa Suka Ngelantur masa bakti 2025-2028 adalah saudara Bara Alfiansyah, S.H. dan saudara Indra Firmanta S.E.,” suara Fandi sang ketua penyelenggara pemilihan mengumumkan melalui mic wireless model usang yang kadang mati sendiri tanpa tahu penyebabnya.

Gemuruh tepuk tangan muda-mudi memecah suasana sore itu. “Hidup Bara! Hidup Indra!” teriak mereka sahut menyahut menambah suasana riuh. Beberapa orang  mengerumuni dan menyalamiku dengan erat sembari menatap dalam mataku, penuh harap.

Dua minggu setelah aku menjadi ketua karang taruna desa Suka Ngelantur, sebuah surat undangan rapat desa kuterima. Isinya sosialisasi tentang rencana pembangunan “Pusat Kuliner Rakyat Jelata” (PUKUL RATA).

Baca Juga  Maya dan Kotoran Sapi Embah

“Menurut saya, program ini  bagus. Tapi tidak sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat dan letak geografis desa kita Pak!” suaraku lantang memantul di dinding gedung kantor desa yang warnanya pucat karena  pudar. Sebagian di serap oleh meja yang dimakan rayap. Sebagian kursi yang bergoyang-goyang saat diduduki menjadi saksi.

“Lain halnya jika kita berada di wilayah kota yang padat penduduk. Saya yakin bangunan dengan anggaran miliaran ini akan mubazir dan tidak berdampak positif bagi masyarakat. Siapa yang mau beli?!” lanjutku dengan suara lebih tegas.

“Proyek ini di luar akal sehat Pak! Sekelas kabupaten atau kota saja belum tentu berani membangun fasilitas sebesar ini!” dengan cadas aku libas semua argumen Kades.

‘’Saya mewakili Pemuda Desa Suka Ngelantur menolak rencana Pusat Kuliner Rakyat jelata atau PUKULRATA ini. Terima kasih!” pungkasku mengakhiri.

Kepala Desa terperangah. Sejak ia menjabat selama 2 periode, belum pernah ada pemuda yang begitu lantang menolak program-programnya.

Beberapa Perangkat Desa terlihat saling berbisik. Sebagian lagi tampak seolah sibuk mengulik gawai masing-masing dan tak mau terlibat terlalu jauh atas ketegangan ini. Mereka enggan mengambil risiko dan menyelamatkan diri masing-masing.

Akhirnya rapat desa hari itu berakhir tanpa keputusan, mentah tanpa hasil. Aku tegas menolak menandatangani surat dukungan Karang Taruna terhadap program pembangunan Pusat Kuliner Rakyat Jelata, karena aku tahu, ini hanya akal-akalan Kades untuk memperkaya diri dan keluarganya. Bagaimana tidak? Lahan yang akan dipakai untuk proyek ini adalah milik Kades, pemborongnya menantu kades, pemasok material bangunannya anak sulungnya sendiri. Ini jelas proyek keluarga berkedok pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga  Mari Bercerita

Beberapa hari setelah rapat, aku sering mendapat telepon dari nomer yang tak dikenal yang mencoba menawarkan kerja sama dan mengiming-imingi fee proyek “PUKULRATA”.

Pesan WA berupa ancaman pembunuhan, ancaman penculikan dan masih banyak lagi.

Aku bukan orang bodoh. Semua pembicaraan telepon aku rekam. Tangkapan layar pesan WA sudah tersimpan. Ku unggah di drive bersama. Aku meyakini, suatu saat ini akan berguna.

Tengah malam, aku belum tidur. Grup WA Karang Taruna masih ramai membahas rapat di kantor desa siang tadi. Aku bersyukur mereka mendukung penuh langkahku. Energiku serasa berlipat ganda dan lebih bersemangat untuk mengkritisi kebijakan yang menawarkan banyak keganjilan. Dalam berbagai kesempatan, aku selalu berpesan pada mereka. “ Jangan pernah gentar. Masyarakat mendukung kita. Sudah lama kita dibohongi”

“JANGAN PERNAH MUNDUR KAWAN! AYO KITA LAWAN!” tulisku di grup WA dengan huruf kapital menutup diskusi malam itu.

Jedaakk..!!! terdengar suara atap rumah seperti dilempari benda keras. Aku segera berlari keluar karena penasaran. Tapi tak kutemui apapun. Hanya terdengar suara motor dengan knalpot brong yang dipacu menjauh dari rumahku.

“Mungkin hanya remaja iseng saja,” pikirku.

“Ada apa Bara?” terdengar suara dari dalam rumah. Rupanya bapak terbangun karena mendengar sesuatu.

“Kucing berkelahi, Pak,” jawabku sambil bergegas masuk kerumah.

***

Suatu siang, setelah pertemuan Karang Taruna, aku sempatkan diri mampir di kedai kopi milik Pak Amir. Melepas penat sesaat setelah beberapa waktu berdiskusi serius bersama para pengurus. Kebetulan siang itu sepi pengunjung.

Baca Juga  Sungai yang Menghidupkan

Sepeda motor dengan knalpot brong berhenti. Dua orang penumpangnya turun dan mendekatiku. Satu di antara mereka, wajahnya tak asing lagi bagiku, Darsa .

Teman sepermainan saat SD yang kini menjadi komandan keamanan desa.

“Bro, sebaiknya anak kemarin sore tak usah banyak tingkah. Ingat..tanah kuburan masih luas,” katanya dengan nada dan gaya sok militeristis.

Aku hanya tersenyum tipis. Sambil menyeruput kopi pahitku dengan santai. Bagiku gertakan itu tak akan menyurutkan langkah dan menciutkan nyaliku.

Sekejap kemudian mereka bergegas menghampiri dan menggeber-geber motor berknalpot brongnya beberapa saat, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Jam 21.00.  Suasana sangat sepi di kampungku. Maklum, selain dikelilingi hutan dan kebun kelapa sawit, kampung ini berada jauh dari kota kecamatan.

“Bara, lampunya mati lagi Nak!” teriakan panik ibuku dari arah dapur.

“Ya Bu, biar Bara periksa keluar,” sahutku tenang untuk mengurangi kecemasan Ibu.

Sejak Maghrib, terhitung sudah lima kali listrik di rumahku padam dan hidup sendiri. Padahal rumah para tetangga lampunya tetap menyala.

Ku ambil telepon genggam. Kuhidupkan senter untuk memeriksa sekering listrik. “Normal-normal saja, “ gumamku.

Aku bergegas keluar memeriksa KWh meter di samping rumah. Setelah kuterangi dengan cahaya lampu senter, nampaknya ada yang sengaja mematikan tombol meteran listrik.

Tiba-tiba dari arah samping muncul sosok tinggi besar dengan kasar mencengkeram kerah bajuku.