Dengan tatapan tajam dia mendekatkan mulutnya ke mukaku. Itu Darsa. Sahabat kecilku dulu. Sang komandan keamanan desa.

“Kamu tidak usah sok jadi pahlawan dan memutus rezeki orang. Besok, tandatangani surat dukungan itu, atau kamu akan hilang dari desa ini?” bisiknya dengan bau khas rokok murahan yang tak pernah absen menyumpal bibir hitamnya.

“Sekali tidak, tetap tidak. Aku tahu kemana tujuan program itu. Memperkaya diri dan keluarga bosmu,” jawabku mantap dan tenang.

Plakk! Plakk! Plakk! Plakk. Mendadak pelipis kiri dan kananku di hantam oleh seseorang dengan kepalan tangan. Karena tak siap, aku pun oleng hampir terjatuh. Secepat kilat mulutku disumpal kain kanebo dan tubuhku diseret menjauh menuju mobil Daihatsu Taft  yang sudah mereka siapkan.

Pintu belakang mobil dibuka, aku di paksa masuk dengan dorongan dan tendangan kasar. Sandal jepit merk swallow sebelah kiriku terlepas dan terjatuh di jalanan. Beberapa detik kemudian tubuhku yang limbung di gelandang dengan mobil bermesin diesel itu. Suara kasar mobil, asap hitam tebal mengepul disaksikan malam dan sandal yang tertinggal. Aku tak tahu kemana arah mobil membawaku.

“Kamu mau saling bantu, atau Ini akan jadi malam terakhirmu?!” bentak seorang laki-laki kekar sambil menginjak leherku. Sepatunya terasa keras menekan dan hendak menghentikan jalan napas.

Baca Juga  Belajarlah Melepaskan

Aku hanya menatap tajam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku.

Entah berapa puluh kali tubuh dan mukaku menjadi sasaran tinju dan tendangan mereka. Beberapa kali aku tak sadarkan diri. Mata dan telingaku sudah tak bisa berfungsi dengan normal.

“Buang saja dia di sungai yang dalam.” sayup-sayup aku mendengar salah satu dari mereka memberi instruksi.

“Ikat dan beri pemberat biar tak muncul lagi,” kata yang lainnya.

Beberapa saat kemudian mereka berhenti di sebuah jembatan besar. Setelah di tendang keluar, tubuhku disatukan dengan ban cadangan mobil yang masih lengkap deng velgnya.

Aku sadar, ini akan menjadi akhir bagiku.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran aku berucap “Kalian bisa membungkam seorang Bara. Tapi, ratusan Bara lain akan lahir. Berjuang demi keadilan dengan semangat yang membara.”

“Banyak cing cong! Lempar!” perintah seorang dari mereka.

Seketika tubuhku melayang, terhempas dan menembus air yang sangat dingin menuju ke dasar sungai. Beberapa menit kemudian aku merasa sudah berpindah ke dimensi lain. Tempat yang baru dan asing bagiku.

***

Pagi buta, kulihat Ibu dan bapak  bingung mencariku ke seluruh pelosok kampung. Motor supra tuanya hilir mudik kesegala penjuru. Ibu dengan raut cemas membonceng sambil memeluk sandal swallow sebelah kiri milikku yang ia temukan di pinggir jalan tak jauh dari rumah.

Baca Juga  10 Pantun Cinta yang Dijamin Buat Pasangan Langsung Baper

“Kita lapor ke RT dulu Pak atau langsung ke polisi?” Ibuku menahan tangis.

Bapak diam seribu bahasa. Mulut terkunci. Perasaan bapak terpancar jelas dari sorot mata tuanya yang kosong .

Orang tuaku melaporkan kejadian itu pada ketua RT dan Kadus. Tapi tampaknya mereka tidak menanggapi dengan serius.

‘’Ah, mungkin saja Bara dijemput temannya,” prediksi pak RT.

“Paling-paling dia main ke kota sama pengurus Karang Taruna,” kata Kadus.

Tentu jawaban-jawaban itu tak memuaskan. Mereka tahu persis, jangankan pergi jauh, ke warung  ujung kampung saja aku selalu berpamitan pada mereka.

Menjelang siang, berita tentang menghilangnya seorang ketua karang taruna begitu cepat tersebar. Para pengurus karang taruna  gencar memosting berita orang hilang di berbagai sosial media.

Waktu berlari begitu cepat bagi kedua orang tuaku. Para pemuda bergantian menjaga bapak dan ibu sekaligus mencoba menghibur dan meyakinkan bahwa aku akan segera kembali.

Tiga hari berlalu, terlihat para pemuda dan masyarakat berduyun-duyun menuju kantor desa sambil membawa spanduk-spanduk. “KEMBALIKAN BARA!” “STOP PEMBUNGKAMAN!” “TURUNKAN KADES!” dan masih banyak lagi lainnya.

Baca Juga  Ayam Goreng Krispi Pedas

Kades Suka Ngelantur tak berani keluar menemui para pendemo. Ia tak menyangka, semua yang dilakukan akan menjadi bumerang baginya.

“Perlu Bapak Ibu dan para pemuda ketahui, sebelum hilang, saudara Bara sudah mendapatkan berbagai teror dan ancaman!” kata Indra sang wakil ketua karang taruna dengan lantang .

“Semua bukti sudah kami pegang dan simpan!” lanjutnya.

“Turunkan Kades dan antek-anteknya!”teriak Indra  berapi-api.

“Turunkan!” “Bongkar!” “ Adili!” teriak para pemuda dengan kompak dan berulang ulang.

Tubuhku ditemukan oleh pencari ikan, tepat hari ke empat setelah kejadian. Kumelihat duka mendalam di wajah kedua orang tuaku. Ratusan pelayat silih berganti memberi dukungan dan  simpati serta ucapan duka cita padanya. Ibu pingsan berkali-kali sambil terus memeluk sandal jepit sebelah kiriku yang tertinggal. Baginya, itu kenangan paling akhir sebelum kepergian anak tunggalnya, Bara Alfiansyah, S.H.

Proses hukum pun berjalan. Para tersangka diadili. Bukti dan saksi dihadirkan.

Akhirnya Kades Suka Ngelantur dan beberapa orang yang terlibat pembunuhan berencana divonis sesuai peran masing-masing.

Ada kelegaan dalam diri. Pengorbananku tak sia-sia.

Aku tersenyum tenang dalam istirahat panjangku.

Aku selalu memeluk erat Ibu dan Bapakku dalam mimpi-mimpi mereka.

Toboali, 24 Februari 2026, Sang Pengulik Tinta