Oleh: Supriatin, S.E — Aktivis Dakwah

Ketua Bem UGM, Tiyo Ardianto beserta rekan bahkan keluarganya, mendapatkan indimidasi berupa ancaman fisik. Ini terjadi setelah Tiyo melayangkan kritik tajam terhadap sejumlah program pemerintahan.(www.suara.com, 22/02/2026).

Untuk daerah di Bangka Belitung,  seorang aktivis bernama Rosidi di kabupaten Bangka Selatan,  Rosidi mengalami luka bakar akibat penyiraman air keras oleh orang yang tidak dikenal. Diketahui Rosidi seorang aktivis yang kritis, serta sering memimpin beberapa aksi demonstrasi damai untuk mengkritisi kebijakan pemerintah daerah yang menurutnya tidak tepat. (www.suarapos.com/18 Februari 2026)

Kapitalisme Dibalik Teror
Kapitalisme lahir dari rahim sekuler. Apa  itu sekuler? Sekuler bahasa arabnya Fasluddin a’nil hayah, maknanya pemisahan dari kehidupan. Sehingga peran agama sangat sedikit dalam pengatur bernegara. Dalam kapitalisme kebebasan sangat dijunjung tinggi. Ada 4 kebebasan yang masyhur dalam sistem ini, yaitu ; bebas berpendapat, bebas kepemilikan, bebas beraqidah dan bebas kepribadian.

Baca Juga  Pelestarian Burung Cenderawasih: Menjaga Martabat Budaya dan  Masa Depan Hutan Papua

Namun bebas perpendapat dalam sistem ini faktanya tak seindah yang dikatakan, ketika berpendapat tidak ramah terhadap para kapitalis. Hal ini penyebab munculnya berbagai teror terhadap para pengkritis.Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Begitulah hal yang pantas disematkan kepada korban teror. Teror dilakukanpun setelah adanya kritikan yang dinilai pedas untuk para kapitalisme. Ternyata setiap kritikan ada kepentingan kapitalisme yang terganggu kepentingannya.

Ketika kepentingan para kapitalisme terusik, maka para kapitalisme melakukan berbagai upaya untuk membuat para pengkritik untuk bungkam, termasuk dengan cara fisik. Dari penjabaran diatas maka kebebasan perpendapat hanyalah omong kosong ketika berpendapat atau kritik menyinggung kepentingan para kapitalis. Namun akan disenangi bagi para kapitalis jika pendapat atau kritik itu bermanfaat bagi para kapitalis.

Baca Juga  Menakar Efektivitas Otonomi Daerah di Bangka dan Pangkalpinang: Antara Kewenangan dan Kepentingan Publik