Hari-hari hanyalah pengulangan monoton
Bak mesin tambang yang menderu tanpa lakon
Aku merasa kerdil di tengah potensi yang raksasa
Terpenjara dalam ritme hidup yang kehilangan rasa
Sedih ini lebih pekat dari kopi di warung-warung tua
Pahitnya menetap, meski gula harapan coba kesedua

Aku tak butuh iba, aku butuh kataris
Memecah belenggu lingkungan yang skeptis
Sebab meski hari ini jalanku berdarah dan letih
Aku percaya, intan hanya lahir dari tekanan yang perih

Suatu saat, aku tak lagi memandang ke langit
Tapi akulah yang akan menjadi bintang di puncak bukit
Menunggu waktu hingga garis nasib ini beradu
Dan dunia tahu, anak Bangka takkan mati membatu

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

Karya Makmur, 16 Maret 2026