Ada perih yang tak terucap dalam senyumnya,
Melihat upah pembilas lemak lebih tinggi dari pengasah otak.
Bukan ia iri pada keringat buruh yang mulia,
Hanya sedih, mengapa martabat ilmu dihargai seakan retak.

Satu tangan membersihkan sisa makanan,
Satu tangan lagi membersihkan kebodohan.
Namun di negeri ini, perut lebih cepat dikenyangkan,
Daripada akal yang dipaksa bertahan dalam kelaparan.

Baca Juga  Misteri Tebeng Layfat