Meruntuhkan Tahayul Modern: Menggugat Berhala Mitologi di Atas Meja Hukum
Tragedi terbesar bukan hanya pada simbolnya, melainkan pada peran para intelektual dan agamawan yang memberikan stempel “halal” pada sistem yang menjauhkan umat dari akidahnya. Atas nama maslahat dan stabilitas, mereka menundukkan hukum Allah di bawah prosedur manusia. Padahal, Rasulullah SAW telah memperingatkan bahaya jika sebuah umat meninggalkan hukum Allah:
“Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menjalankan hukum dengan Kitabullah dan memilih apa yang diturunkan Allah, niscaya Allah akan menjadikan peperangan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Ketika hukum Tuhan dianggap sebagai urusan privat dan hukum manusia dianggap sebagai puncak peradaban, maka saat itulah masyarakat sedang hidup dalam jeratan tahyul yang dilembagakan.
Keadilan Sejati: Sebuah Kepastian Aqidah
Keadilan tidak akan pernah lahir dari timbangan yang dipegang oleh patung mitologis. Ia hanya akan hadir ketika manusia tunduk sepenuhnya pada ketetapan Sang Pencipta. Mengambil sebagian hukum Allah dan membuang sebagian lainnya demi mengikuti sistem buatan adalah sebuah pengkhianatan terhadap iman.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan…” (QS. An-Nisa: 65)
Penutup: Kembali ke Barisan Kebenaran
Maka, membongkar simbolisme Dewi Keadilan adalah langkah awal untuk menyadari bahwa kita sedang dijajah oleh konsep-konsep asing yang merusak akar akidah. Sudah saatnya umat Islam tidak lagi terpukau oleh “berhala modern” yang dipoles dengan istilah akademik.
Keadilan bukan tentang prosedur yang buta, melainkan tentang ketundukan yang sadar kepada hukum Allah. Pilihan kita hanya satu: berdiri di bawah naungan wahyu yang terang benderang, atau terus tersesat dalam bayang-bayang mitologi yang menyesatkan.
