Pola Pikir Kepulauan untuk Bangka Belitung: Menjadikan Laut dan Daratan Saling Menguatkan
Masalah tata ruang dan reforma agraria di Babel tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendiri. Pemerintah pusat juga memiliki peran penting, terutama dalam hal penyelarasan data, izin, dan kebijakan lintas sektor.
Seperti yang sering disampaikan, regulasi untuk menyelesaikan persoalan kepemilikan tanah sebenarnya sudah lengkap. Mulai dari Peraturan Presiden, Undang-Undang, hingga Peraturan Menteri sudah mengatur mekanismenya. Yang dibutuhkan sekarang adalah sinergi yang cepat dan tepat antara Pemda dan pemerintah pusat agar solusi bisa segera dijalankan.
Tanpa sinergi, aturan selengkap apa pun akan sulit memberi dampak nyata di lapangan. Dengan sinergi, Babel bisa menjadi contoh bagaimana daerah kepulauan menata ruangnya secara adil dan berkelanjutan.
Mengubah pola pikir memang bukan hal yang bisa terjadi dalam semalam. Ia memerlukan proses yang panjang, keterbukaan untuk menerima cara pandang baru, serta keterlibatan aktif masyarakat agar perubahan itu terasa milik bersama, bukan sekadar kebijakan dari atas.
Di Bangka Belitung, tanda-tanda perubahan itu perlahan mulai muncul. Diskusi-diskusi seputar Tata Ruang Wilayah, percepatan reforma agraria, hingga pemetaan ulang lahan yang tumpang tindih mulai dibicarakan lebih terbuka. Meski masih pada tahap awal, langkah-langkah ini penting karena menjadi fondasi bagi penataan ruang yang lebih adil dan terukur.
Ketika semua pihak seperti pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta mau duduk bersama menyelaraskan data dan kepentingan, ruang untuk mencari solusi terbaik menjadi lebih terbuka. Inilah awal yang baik. Dari sinilah pola pikir kepulauan bisa tumbuh, yaitu cara pandang yang melihat laut dan daratan sebagai satu kesatuan ruang hidup yang saling menguatkan.
Ke depan, Bangka Belitung perlu memandang laut bukan sebagai pembatas antar pulau, tapi sebagai penghubung. Pelabuhan ekspor impor, pelabuhan penumpang, pelabuhan rakyat, dan konektivitas digital bisa membuat pulau-pulau kecil di Babel lebih terhubung dengan pusat pertumbuhan. Ketika jarak terasa dekat, peluang ekonomi dan pendidikan juga akan lebih merata.
Bangka Belitung sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi contoh daerah kepulauan yang berkembang sesuai karakternya sendiri. Kekayaan sumber daya laut, nilai-nilai budaya Melayu, serta semangat gotong royong masyarakatnya merupakan kekuatan khas yang berbeda dengan di tempat lain.
Tinggal bagaimana kita mengubah cara pandang. Dari melihat laut sebagai batas, menjadi melihat laut sebagai jembatan. Dari terfokus pada satu komoditas, menjadi membuka ruang bagi ekonomi biru yang beragam. Dari bekerja sendiri-sendiri, menjadi bersinergi antara pusat, daerah, dan masyarakat.
Jika pola pikir kepulauan ini dihidupkan, Bangka Belitung tidak hanya akan maju secara ekonomi, tapi juga tetap menjaga identitas dan lingkungannya. Dan itulah pembangunan yang berkelanjutan pembangunan yang membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari masa depan daerahnya sendiri.
