Menyamar Jadi Porter, Cara Tim Meriam Gagalkan Pelarian Perampok Smelter di Tanjung Kalian
Menyamar Jadi Porter, Cara Tim Meriam Gagalkan Pelarian Perampok Smelter di Tanjung Kalian
BANGKA BARAT, TIMELINES.ID — Suasana Pelabuhan Tanjung Kalian, Mentok, Kabupaten Bangka Barat pada Minggu (17/5/2026) siang itu tampak seperti biasa. Ratusan calon penumpang hilir mudik berburu tiket kapal menuju Pulau Sumatera.
Namun di balik hiruk-pikuk tersebut, sebuah operasi senyap sedang berlangsung ketat. Sejumlah polisi berpakaian preman dari Tim Meriam Polsek Mentok tampak membaur dengan warga.
Beberapa di antaranya bahkan sengaja menyamar menjadi porter dan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) pelabuhan. Target mereka adalah komplotan rampok bersenjata yang baru saja menguras smelter PT PMP di Kawasan Industri Jelitik, Sungailiat, Kabupaten Bangka.
“Kami harus bergerak senyap karena informasi awal yang kami terima sangat minim. Foto pelaku belum ada, ciri-cirinya samar, kami hanya mengantongi satu nama panggilan, Wak Nang,” ujar Kapolsek Mentok, Iptu Rusdi Yunial, mewakili Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, Selasa (19/5/2026).
Perburuan ini bermula sekitar pukul 11.00 Wib. Tim Kelambit dari Satreskrim Polres Bangka menghubungi Unit Reskrim Polsek Mentok. Kabar buruk disampaikan, kawanan perampok diduga kuat tengah menuju Pelabuhan Tanjung Kalian untuk menyeberang ke Palembang via jalur laut.
Mendapat informasi krusial itu, Tim Meriam yang dipimpin Ipda Sarasi Samosir S.H langsung bergerak cepat mengepung pelabuhan objek vital tersebut. Sembari memonitor situasi, koordinasi intensif terus dilakukan setiap 10 menit sekali dengan Tim Kelambit guna menggali informasi tambahan.
Polisi juga merangkul petugas loket dan satpam pelabuhan demi mempersempit ruang gerak pelaku. Secercah titik terang muncul saat petugas loket melaporkan adanya pesanan tiket atas nama Nawawi, yang belakangan diketahui bernama asli Ahmad Nawawi alias Wak Nang bersama seorang rekannya.
Meski target utama sudah teridentifikasi, polisi tidak mau gegabah. Mereka tahu komplotan ini berjumlah banyak. Benar saja, sekitar pukul 14.00 Wib, petugas loket kembali mendeteksi adanya pesanan tiket dari empat orang lain yang gerak-geriknya tak kalah mencurigakan.
