Gaza Terus Diblokade: Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam
Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam
Israel kembali menuai sorotan internasional setelah menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza di perairan internasional, dekat wilayah Yunani. Saat dicegat, armada tersebut dilaporkan masih berjarak sekitar 965 kilometer dari Gaza. (Kompas.com, 01/05/26). Sebanyak 31 aktivis terluka dalam pencegatan pasukan Zionis Israel terhadap kapal-kapal Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza di perairan internasional. (Minanews.net, 02/05/26)
Global Sumud Flotilla menyebut militer Israel telah menculik 211 aktivis dalam operasi di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, pada Kamis (30/4/2026).Global Sumud Flotilla merupakan koalisi aktivis kemanusiaan internasional yang membawa bantuan untuk menembus blokade Israel di Gaza. Pada tahun sebelumnya, upaya serupa juga dilakukan, namun kembali dicegat.Insiden terbaru ini memicu kecaman internasional, terutama karena lokasi pencegatan yang dinilai sangat jauh dari zona blokade Gaza. (Kompas.com, 01/05/26)
Zionis mencoba menjustifikasi penahanan terhadap aktivis dengan menuding pelayaran kapal tersebut beroperasi di bawah arahan kelompok h4mas. Sikap zionis yang suka playingvictim dan menuduh ini menunjukkan upaya keji Zionis untuk terus memblokade Gaza. Zionis telah menjadikan jalur Gaza penjara terbesar dengan terbatasnya akses air bersih dan minimnya makanan. Menjadikan kelaparan sebagai senjata pemusnah kaum muslimin Gaza. Sebuah sikap pengecut yang terus dipertontonkan pada dunia.
Label “Teroris” Upaya Playing victim Zionis
Pelanggaran hukum laut internasional adalah bukti nyata bahwa entitas zionis tifak mengenal batas dalam melanggengkan blokade atas Gaza. Diamnya badan “perdamaian” dunia alias PBB juga menunjukkan keberpihakan lembaga tersebut atas penjajahan zionis yang telah dilakukan lebih dari setengah abad.
Zionis juga terus menunjukkan sikap kepada dunia internasional bahwa mereka sedang melawan kelompok yang mereka labeli “teroris” untuk membom rumah sakit, sekolah, menangkap aktivis hingga menyita bantuan makanan dan obat-obatan. Justifikasi palsu mereka telah berulang kali digunakan untuk melakukan tindakan keji tidak berdasar dan justru menjadikan rakyat sipil sebagai korban. Dengan melabeli aktivis peduli Gaza dengan terafilisasi kelompok perjuangan, Zionis sejatinya ingin terus mematikan dukungan terhadap Gaza.
Zionis Israel yang tidak henti-hentinya membunuh orang-orang tidak bersalah ingin membumi hanguskan Gaza dan wilayah yang mereka klaim sebagai milik mereka. Dengan begitu keji, selama dua tahun saja serangan Israel telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya, serta mnghancurkan 90 persen infrastruktur sipil di Gaza. Zionis Israel melancarkan itu semua sebagai sosok penjajah dan pembunuh yang kemudian dengan tidak tahu malu menuduh kelompok mujahidin yang membela agama dan tanah air mereka dengan ter0ris. Padahal, Zionis Israellah teroris sesungguhnya. Ini fakta yang amat mudah diindra oleh siapa saja yang memiliki akal sehat.
Kemana Negeri Muslim?
Mirisnya, sikap Zionis yang semena-mena tidak berdiri sendiri, Zionis bisa mulus melancarkan aksinya sebab disokong negara adidaya Amerika dan sekutunya. Yang lebih menyakitkan, penghianatan ini justru dipertontonkan oleh pemimpin-pemimpin negeri muslim yang berjabat tangan dengan Donald Trump dan melakukan hubungan normalisasi dengan Israel. Jelas, Israel bisa mendapat jalan tol menggenosida rakyat Palestina sebab diamnya negeri muslim.
Pada saat aksi kemanusiaan Global Sumud Flotilla kembali menuai kegagalan setelah berupaya kembali menembus blokade Gaza, mirisnya tidak ada satupun negeri-negeri muslim yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut. Mengirimkan tentara Angkatan Laut yang sering dipamerkan memiliki kekuatan dan kecanggihan senjata. Namun, itu semua seperti ditelan bumi saat saudara muslimnya dibunuh. Apakah nyawa saudara muslimnya sudah begitu murah hingga mereka tidak tahu malu dihadapan Kuffar dan terutama dihadapan Allah Azza wa Jalla?
