Menjaga Ikan Endemik Bangka Belitung: Tanggung Jawab Bersama untuk Masa Depan Keanekaragaman Hayati
Oleh: Anya Tiffani — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Koordinator: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., MP.
Ketika berbicara tentang kekayaan alam Bangka Belitung, banyak orang lebih mengenal daerah ini sebagai penghasil timah. Padahal, ada kekayaan lain yang tidak kalah berharga, yaitu ikan-ikan endemik air tawar yang hanya dapat ditemukan di wilayah Bangka Belitung. Keberadaan mereka sering kali luput dari perhatian, padahal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menjadi bagian dari identitas daerah kita.
Keberadaan ikan endemik tersebut merupakan bagian penting dari identitas keanekaragaman hayati daerah yang tidak dapat digantikan apabila mengalami kepunahan. Oleh karena itu, upaya menjaga dan melestarikan ikan endemik Bangka Belitung tidak lagi dapat dianggap sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan harus menjadi gerakan kolektif seluruh elemen Masyarakat demi menjamin keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang.
Ironisnya, masyarakat Bangka Belitung lebih akrab dengan identitas daerah sebagai penghasil timah dibandingkan sebagai rumah bagi kekayaan ikhtiofauna endemik yang memiliki nilai ekologis, ilmiah, ekonomi, bahkan kultural yang sangat tinggi. di balik aliran sungai berwarna kehitaman khas rawa gambut, tersimpan kehidupan spesies seperti Cupang liar(Betta burdigala),Cupang Tenggorokan Hijau (Betta chloropharynx), cupang Schaller (Betta schalleri), hingga sepat mini Bintan (Parosphromenus bintan). yang telah beradaptasi secara khusus terhadap kondisi lingkungan perairan asam dengan kandungan bahan organik tinggi.
Adaptasi tersebut menjadikan mereka bukan hanya unik, tetapi juga rentan terhadap perubahan habitat sekecil apa pun. Saya melihat bahwa pembangunan memang penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pembangunan seharusnya tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Jika habitat ikan endemik terus rusak akibat aktivitas manusia, maka bukan tidak mungkin spesies-spesies tersebut akan hilang selamanya dari Bangka Belitung. Persoalan terbesar muncul ketika pembangunan tidak selalu berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan.
Aktivitas pertambangan timah, pembukaan lahan, konversi hutan rawa menjadi kawasan perkebunan, pembangunan permukiman, serta pencemaran perairan telah mengubah lanskap ekologis Bangka Belitung secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Habitat yang dahulu menjadi tempat pemijahan, mencari makan, dan berlindung bagi ikan endemik kini mengalami fragmentasi bahkan hilang sama sekali. Kondisi tersebut menjadi ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup spesies-spesies yang ruang hidupnya memang sudah terbatas sejak awal.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ancaman terhadap ikan endemik Pulau Bangka tidak dapat dianggap remeh. Yayasan Tanggokers mencatat adanya sedikitnya tujuh spesies ikan air tawar endemik yang kini menghadapi risiko akibat berbagai aktivitas manusia, mulai dari pembukaan hutan, pertambangan timah, perubahan tata guna lahan, hingga pencemaran lingkungan. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena sebagian besar spesies tersebut telah berstatus terancam dalam Daftar Merah IUCN, yang menandakan perlunya langkah konservasi yang lebih efektif dan terkoordinasi.
Selain memiliki potensi sumber daya alam yang besar, Ekosistem Perairan Bumang di Pulau Bangka juga menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Kawasan ini menjadi habitat bagi 41 spesies ikan, termasuk tiga spesies endemik Bangka, yaitu Betta chloropharynx, Parosphromenus bintan, dan Betta schalleri. Keberadaan berbagai spesies tersebut membuktikan bahwa sungai-sungai lokal memiliki peran penting sebagai pusat keanekaragaman hayati yang perlu dijaga keberlangsungannya.
