Mana 19 Juta Lapangan Pekerjaan yang Kau Janjikan, Tuan?
Anak-anak muda kini terjebak di ruang maya,
Menjadi buruh algoritma demi receh yang tak seberapa.
Atau luntang-lantung di sudut-sudut kota,
Menelan ludah melihat megahnya menara jelata.
Kau bilang ekonomi kita sedang meroket tinggi,
Tapi mengapa dapur kami justru sunyi sekali?
Angka-angka di atas kertasmu begitu indah berseri,
Tapi tak bisa mengenyangkan perut yang melilit perih.
Tuan, kami tidak butuh grafik dan persentase,
Yang kami butuhkan adalah asap dapur yang mengepul oke.
Jangan biarkan janji itu menguap bersama angin lalu,
Meninggalkan kami yang terasing di tanah air sendiri, membisu.
Kami masih di sini, menagih kalimat yang kau umbar,
Sebelum sisa-sisa kesabaran ini akhirnya bubar.
Mana sembilan belas juta lapangan pekerjaan itu, Tuan?
Atau itu hanya mantra demi sebuah jabatan?

