Lebih baik mati mendekap sunyi,
Daripada hidup berpangku caci.
Saat martabat runtuh menjadi abu,
Hanya darah yang membasuh pilu.

Mereka memilih tunduk pada tajamnya kehormatan,
Memotong napas sendiri di tengah kesunyian.
Sebuah tradisi kelam dari rasa bersalah yang menghujam,
Sebelum hukum dunia sempat mengetuk malam.

Kini zaman telah bergeser jauh ke depan,
Namun bayang-bayang itu tetap menjadi ingatan:
Bahwa di atas takhta dan kuasa yang fana,
Rasa malu adalah benteng terakhir jiwa manusia.

Baca Juga  Mimpi di Antara Deburan Ombak Batu Belimbing