Sepiring Nasi yang Dibayar Nyawa
Oleh: Putri Simba
Malam itu begitu sunyi. Di sebuah rumah kecil yang hampir roboh, hanya ada suara perut yang terus berbunyi. Seorang anak perempuan bernama Dinda yang berusia 7 tahun memeluk lututnya sambil menatap sang Ayah yang duduk termenung di sudut ruangan.
“Pak … Adek lapar,.” ujar putri kecilnya itu.
Sang Ayah hanya terdiam,karena kalimat sederhana dari putri kecilnya itu terasa lebih tajam daripada pisau yang menusuk dada seorang ayah. Ia menatap dapur yang kosong, takada beras, takada mi instan, bahkan garam pun hanya tersisa sedikit. Dompetnya pun kosong, takada uang untuk membeli makanan, apalagi untuk membayar biaya sekolah putrinya itu yang sudah jatuh tempo.
Air matanya hampir terjatuh. Sebagai seorang ayah, takada yang lebih menyakitkan daripada melihat anaknya harus menahan lapar dan terancam berhenti sekolah hanya karena kemiskinan. Dengan langkah pelan ia mengusap kepala anaknya.
“Tunggu ya, Nak, Bapak mau keluar sebentar,” ujarnya.
“Mau ke mana, Pak?” tanya putri kecilnya itu.
Sang Ayah tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kesedihan di balik wajahnya.
“Bapak mau cari makan dulu dan cari uang untuk biaya sekolah kamu, Nak, putri kecilnya Bapak,” jawabnya.
Putrinya tersenyum. “Nanti kita makan sama-sama, ya, Bapak … ” ujarnya.
“Iya, Nak, Bapak janji,” jawabnya singkat yang menjadi janji terakhir kepada putri kecilnya itu.
Dengan langkah berat, sang Ayah langsung berjalan menembus gelapnya malam. Di sepanjang perjalanan yang terbayang di benaknya hanyalah wajah putrinya yang menahan lapar dan mimpinya untuk tetap bersekolah. Ia sadar, apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Ia juga tahu, keputusan itu bisa membuatnya kehilangan segalanya. Namun, sebagai seorang ayah, ia lebih takut melihat putrinya menangis karena kelaparan dan harus mengubur cita-citanya akibat takmampu membayar biaya sekolah. Dalam keputusasaan itulah, ia nekat mengambil jalan yang seharusnya takpernah ia pilih.
“Nak, maafkan Bapak, Nak, Bapak terpaksa melakukan ini …” bisiknya.
Di malam itu, takdir berkata lain. Belum sempat pergi jauh setelah terpaksa mencuri dua ekor ayam, teriakan menggema memecah keheningan malam.
“Maling … Maling …!”
Orang-orang kampung berdatangan dan Bapak itu berusaha menjelaskan, ia ingin mengatakannya dengan jujur. Ingin mengatakan bahwa ia terpaksa melakukannya karena di rumah ada anak yang menunggunya membawa makanan. Namun, takada satu pun memberikan kesempatan. Amarah menguasai keadaan, lima orang lelaki gagah yang baru saja datang melihat kejadian tersebut langsung memukuli nya dengan kuat, tanpa melaporkan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib.
Pukulan demi pukulan menghantam tubuhnya, ia terjatuh, berusaha bangkit, lalu kembali dipukul. Tubuhnya semakin lemah, di detik-detik terakhir, yang terlintas di benaknya bukan dirinya melainkan putrinya yang sedang menunggu di rumah untuk bisa makan sesuap nasi bersama.
“Nak … Maafkan Bapak! Bapak tidak bisa menepati janji,” ujarnya yang langsung mengembuskan napas terakhirnya.

