Sepiring Nasi yang Dibayar Nyawa
Di rumah, putrinya itu masih duduk di depan pintu. Matanya tak lepas memandangi jalan desa.
“Sebentar lagi pasti Bapak pulang, pulang dengan membawa makanan enak,” ujarnya yang terus meyakinkan dirinya dengan berulang kali.
Waktu terus berjalan hingga tanpa sadar ia tertidur lelap dan ke esokan paginya, tubuh sang Ayah dibawa pulang ke rumah. Jenazahnya disemayamkan di bale rumah duka, dibalut kain putih sesuai adat yang berlaku. Tangis keluarga pecah memenuhi rumah. Mendengar orang-orang berkerumun di rumahnya, sang anak langsung berlari menghampiri.
“Pak … Bapak sudah pulang!” ujarnya.
Ia sempat tersenyum sesaat. Namun, ketika melihat tubuh ayahnya terbujur kaku tanpa sedikit pun gerakan, senyuman itu perlahan memudar.
“Pak … bangun, Pak.” ucapnya lirih sambil menggoyangkan lengan sang Ayah.
Takada jawaban. Air matanya mulai membasahi pipinya.
“Bapak katanya mau bawa makanan. Katanya kita mau makan bersama. Ayo bangun, Pak … Dedek sudah lapar. Kita makan sama-sama, ya… Bapak!”
Tangisnya pecah. Ia mencoba meraih tubuh ayahnya untuk dipeluk terakhir kalinya. Namun, beberapa warga yang datang melayat dengan lembut menahan tubuh kecilnya agar tidak mendekat. Anak itu terus meronta. Suaranya semakin parau, hingga tangisnya berubah menjadi jeritan yang menyayat hati.
“Bapak … Bapak … Bapak … Jangan tinggalin Dedek … Bapak, bangun … Dedek masih butuh Bapak …. Jangan pergi Bapak….”
“Bapak … Bapak … Bapak…!”jeritannya terus menerus berulang kali tanpa henti.
Jeritan itu membuat suasana rumah duka berubah menjadi lautan air mata. Tak sedikit warga yang menundukkan kepala, menahan sesak di dada. Beberapa di antaranya mengusap air mata yang tak sanggup lagi dibendung.
Di hadapan jenazah sang ayah, seorang anak perempuan kecil baru saja kehilangan seluruh dunianya. Sejak hari itu, tak akan ada lagi sosok yang pulang sambil berkata,
“Bapak sudah pulang, Nak!”
Yang tersisa kini hanyalah rindu seorang anak perempuan kecil, air mata, dan sebuah janji yang takpernah semat ditepati.
Catatan: tulisan cerpen yang saya tuliskan ini adalah sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah seorang perempuan, anak kecil berusia 7 tahun di Bali yang kehilangan cinta sosok ayahnya karena mencuri dua ekor ayam karena terpaksa. Dan memang mencuri itu tetaplah sebuah kesalahan. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan perbuatan tersebut. Namun, di balik setiap kesalahan, terkadang ada kisah pilu yang tak semua orang sempat dengarkan. Ada rasa putus asa, ada tangis keluarga, dan ada seorang anak yang hanya berharap ayahnya pulang ke rumah.
Kesalahan itu memang harus dipertanggungjawabkan, tetapi biarlah hukum yang menegakkannya. Sebab, ketika amarah mengambil alih dan nyawa menjadi taruhannya, yang paling menderita bukan hanya orang yang pergi, melainkan mereka yang ditinggalkan. Seorang istri kehilangan pendamping hidupnya dan yang paling menyayat hati, seorang anak kecil harus kehilangan sosok ayah yang tak akan pernah bisa ia peluk lagi. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap peristiwa, selalu ada sisi kemanusiaan yang perlu kita jaga. Karena satu nyawa yang hilang tidak akan pernah bisa kembali, sementara air mata seorang anak yang kehilangan orang tuanya akan terus mengalir, bahkan ketika dunia telah berhenti membicarakan kisah itu.
Tak ada seorang anak yang memilih lahir dalam kemiskinan. Tak ada pula seorang anak yang pantas membayar kesalahan orang tuanya dengan kehilangan kasih sayang seorang ayah. Semoga kita semua belajar untuk tetap menegakkan keadilan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Sebab, hukum seharusnya memberi keadilan, bukan membiarkan amarah merenggut nyawa.

