Sheyna meraba goresan luka, memar yang masih terasa perih di kulit. “Kak… jika kamu masih ada di sini, kamu pasti akan melindungiku lagi, kan? Tapi kamu terlalu cepat pergi… Maafkan aku, Kak. Semua ini gara-gara aku. Seharusnya yang terbawa ombak itu aku, bukan kakak. Mungkin jika aku yang pergi, kamu akan tetap ada di sini, bahagia, tak perlu lagi repot-repot melindungi adik yang hanya membawa sial bagimu…”

Angin berdesir pelan, seolah menjawab tanpa suara.

“Di sana pasti dingin ya, Kak? kamu sendirian di bawah sana… lautt… jika kau memang harus mengambil seseorang, tolong bawalah aku juga ke tempat kakakku. Biar aku tak perlu lagi merasakan sakit ini sendirian. Biar aku bisa kembali pada orang yang satu-satunya pernah menganggap aku berharga…”

Ombak terus berdebur, membawa sisa rindu yang tak pernah menemukan jalan pulang.
Air mata bercampur dengan butiran air laut yang membasahi wajah. Tak ada jawaban selain gemuruh ombak yang seolah menertawakan doanya yang hancur. Sheyna merengkuh lutut erat, memeluk dirinya sendiri seolah itu adalah pelukan kakaknya yang kini tak lagi ada.

Malam itu pulang bukan lagi rumah, melainkan penjara yang sunyi. Tiap sudut menyimpan tatapan tajam mereka, tiap kata yang terucap selalu berujung pada satu kalimat yang merobek dada: kau pembunuh kakakmu. sheyna makan seadanya, tidur di sudut kamar yang dingin, menahan rindu yang tak pernah surut bersama luka yang makin melebar.

Esok hari, saat fajar menyingsing, gadis itu kembali ke sana. Dan besoknya lagi. Tiap senja, ia selalu datang. Duduk diam di batu yang sama, membiarkan angin membawa suaranya melintasi lautan:

“Kak… kamu janji akan selalu ada di sampingku. Kamu bilang tak akan membiarkan siapa pun menyakitiku. Tapi kenapa kamu sendiri yang pergi duluan? Apa kakak lelah melindungiku? Apa kakak juga akhirnya benci padaku seperti mereka?”

Jari-jarinya meraba leher, tempat kalung itu dulu menggantung. “Kalung itu… kamu bawa bersamamu ya kak? Biar kamu tak lupa padaku, walau aku yang menjadi alasan kakak tak bisa pulang. Maafkan aku, Kak… maafkan aku yang tak bisa menjaga diriku sendiri, hingga akhirnya kamu harus mengorbankan nyawamu untukku.”
Hari demi hari sheyna tidak makan. Pikirannya hanya satu: “kakak di sana pasti laper. Aku mau disini aja sama kakak.”
Rumah itu benar-benar neraka setiap sudut penuh kebencian, setiap langkah penuh rasa bersalah. “Aku dibenci… aku gak kuat tanpa kakak…” bisiknya pelan, menahan tangis yang sudah mau meluap. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, napas tersengal-sengal. Sheyna masih duduk di atas batu yang sama, tak menyadari tali sepatunya sudah lepas. Saat ia mau berdiri, kakinya terinjak tali itu. Tubuhnya tergelincir, jatuh ke dalam air yang sudah sheyna kenal terlalu baik.

Sepatu sebelahnya terlepas, terombang-ambing di permukaan. Ombak menariknya perlahan, menjauh dari daratan, menjauh dari semua yang menyakitkan. Dua hari berlalu ayah dan ibu tidak mencari sheyna. Hanya saat mereka merasa ada yang aneh, baru mereka pergi ke pantai. Yang mereka temukan hanyalah sepatu sheyna yang penuh darah kaki sepatu yang dulu dibelikan raka, dengan nama sheyna yang terukir jelas di dalamnya.

Gadis yang penuh luka itu sudah dibawa jauh, terbawa arus ombak yang dingin.
karena akhirnya sheyna akan ikut bersama kakaknya. Jauh dari rumah yang selalu menyiksa, jauh dari kebencian yang selalu menyelimuti.

Di pantai, ayah dan ibu mereka mulai menangis. Mereka menyesal—sudah terlambat. Dua anaknya pergi terbawa ombak yang sama, di tempat yang sama.

–TAMAT–

Pesan penulis: Tidak ada satu pun kesalahan yang layak dibalas dengan kebencian abadi. Kehilangan memang menyakitkan, tapi menyakiti orang yang tersisa takkan pernah mengembalikan apa yang hilang. Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi jangan biarkan penyesalan menjadi satu-satunya kenangan yang kau miliki.