Karya: Nazira — Siswa SMAN 3 Toboali

Sheyna selalu mencintai pantai. Di sana, di antara deburan ombak dan angin yang membelai, sheyna merasa ada tempat yang menerimanya apa adanya saat ayah dan ibu seolah tak pernah menyukai kehadiran sheyna di rumah. Satu-satunya alasan sheyna masih bertahan bernapas di rumah itu adalah kakak laki-lakinya yaitu Raka. Dia selalu ada, selalu membela, selalu menjadi perisai saat tatapan tajam dan kata dingin orang tua menghujam dada adiknya.

Sore itu sheyna duduk sendirian di atas batu besar di tepi pantai, membiarkan suara ombak menghapus sejenak rasa sesak di dada dan Raka menyusuri tepi pantai dengan kedua orangtuanya. Tiba-tiba hari semakin sore ada tangan kasar mendorong sheyna dari belakang tidak tahu itu siapa. Tubuh sheyna terhempas jatuh ke dalam air yang dalam. sheyna berteriak minta tolong, tapi suara itu hilang ditelan gemuruh ombak. Tak ada satu pun yang menoleh, tak ada yang peduli. Hingga terdengar suara yang paling sheyna kenal, penuh kepanikan:

“Sheyna!, kamu dimana?” ujar raka, suaranya bergetar menahan panik. Tak ada jawaban, hanya gemuruh ombak yang menjawab dingin. Raka melangkah cepat, tak peduli kakinya terantuk batu karang tajam, hatinya berteriak cemas.

“Shey, jawab kakak! jangan main-main ini bahaya!!” kata Raka cemas, sheyna mencoba mengangkat wajahnya, napas tersengal-sengal.

“T-tolong… a-aku… k-kak…” kata sheyna parau, suaranya terpotong-potong terbawa air. Tangannya gemetar mencoba meraih apa saja agar tak tenggelam.

Raka yang mendengarnya seketika seolah dunianya runtuh. Ia melihat kepala adiknya sesaat muncul dipermukaan, lalu kembali ditarik ombak menjauh. Tanpa ragu sepersekian detik pun, Raka melompat kedalam lautan. Ayah dan ibu mereka panik berteriak histeris, tapi Raka tak berhenti berenang hingga akhirnya Raka meraih adiknya, memeluk erat dan membawa sheyna naik kepermukaan, berjuang melawan hempasan air menuju daratan.

Saat hampir sampai di tepi, kalung pemberian Raka kalung yang paling Sheyna sayang terlepas dari lehernya dan jatuh ke air. Raka berhenti, mencoba meraihnya sebelum hilang terbawa arus. Dia berpegangan pada pinggiran batu yang licin, tapi tiba-tiba ombak besar datang menghantam sekuat tenaga. Kepala laki-laki itu terbentur keras pada batu karang. Darah seketika mengalir deras, menyatu dengan air laut. Genggamannya terlepas. Tubuhnya perlahan dihempas arus, menjauh, hilang dari pandangan.

Sheyna yang setengah sadar merentangkan tangan, berteriak parau: “Kakak! Jangan tinggalin aku… Kak Raka!”

Hari berganti malam, lalu senja kembali. Tim pencari menyisir setiap jengkal pantai, tapi tak ada jejak Raka. Dan di situlah semuanya berubah total. Kebencian yang selama ini tersembunyi di hati ayah dan ibunya meledak sepenuhnya. Mereka menatap sheyna bukan lagi sebagai anak, tapi sebagai penyebab hilangnya putra kesayangan mereka.

Di rumah, saat sheyna hanya ingin memandangi foto kakaknya sejenak, ibu merebutnya dengan kasar. “Jangan kau tatap wajah putraku! Gara-gara kau, anakku hilang tak berbekas!” Tangannya mencengkeram leher sheyna, membuat napasnya tercekat. Ayah pun tak lagi bicara, tapi tatapannya lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun. Setiap hari gadis itu disiksa, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan rasa bersalah yang terus dipupuk hingga tumbuh menjadi belenggu yang tak terlepas.

Namun setiap senja, sheyna tetap kembali ke pantai. Duduk di batu yang sama, memandang lautan luas yang kini terasa begitu asing dan kejam. Sheyna berbicara pada ombak yang dulu ia sukai:

“Ombak… ke mana kau membawa kakakku pergi? Kau sudah terlalu jauh membawanya dariku…”