Transaksi Timah Tembus Rp4 Triliun di Agustus 2026, JFX Perkuat Fondasi Menuju BMKS
Setiap komoditas punya karakteristik yang berbeda. Mekanisme yang berhasil untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada komoditas lainnya.
“Kita harus memahami apa yang dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun mekanisme yang sesuai dengan karakter pasar tersebut,” ujarnya.
Ia menilai perkembangan pasar timah menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi yang dapat dimanfaatkan dalam mempersiapkan BMKS. Dan pemerintah menargetkan BMKS mulai
beroperasi pada 1 Januari 2027, dan sepanjang 2025, sekitar 99% transaksi timah nasional sudah dilakukan melalui JFX.
“Artinya, untuk timah kita sudah memiliki pasar yang berjalan, pelaku yang aktif, serta mekanisme perdagangan yang digunakan oleh industri. Fondasi seperti ini yang menurut kami dapat dimanfaatkan dan diperkuat untuk mempercepat kesiapan BMKS,” kata Kanca.
Bagi JFX, aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah fungsi yang dibutuhkan dalam perdagangan komoditas strategis melalui bursa telah berjalan di Indonesia. Pada perdagangan timah, sistem perdagangan telah terhubung dengan proses kliring dan penyelesaian transaksi, pengawasan serta pelaporan.
Ekosistemnya juga telah mempertemukan produsen dan penjual Indonesia dengan pembeli domestik maupun internasional.
Menurut Kanca, keberadaan infrastruktur dan ekosistem JFX yang sudah berjalan bisa dimanfaatkan oleh BMKS, kemudian dilakukan penyesuaian dengan karakteristik komoditas yang akan diperdagangkan.
“Dengan target BMKS beroperasi pada 2027, menurut kami yang terpenting adalah bagaimana kapabilitas yang sudah dimiliki Indonesia dapat langsung dimanfaatkan. Sistem, mekanisme dan pelaku pasarnya sudah ada. Untuk timah bahkan sudah berjalan dalam skala yang sangat besa jadi JFX memiliki basis yang kuat untuk bergerak lebih cepat,” terang Kanca.
Pengalaman perdagangan timah juga memberikan gambaran mengenai peran bursa dalam membangun data pasar domestik. Transaksi yang berlangsung melalui bursa menghasilkan rekam jejak harga, volume, serta aktivitas pelaku yang dapat menjadi basis dalam memperkuat proses pembentukan harga di Indonesia.
Hal tersebut menjadi relevan dengan salah satu tujuan pengembangan BMKS, yaitu memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas strategis.
Sebagai produsen utama sejumlah komoditas dunia, Indonesia memiliki kepentingan agar kondisi supply dan demand di dalam negeri semakin tercermin dalam proses pembentukan harga.
“Untuk timah, proses itu sebenarnya sudah mulai berjalan. Harga JFX sudah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika pembeli melakukan transaksi timah Indonesia. Dengan pasar yang semakin dalam dan transaksi yang semakin kuat, basis kita untuk membangun harga referensi dari Indonesia juga akan semakin kuat,” tutup Kanca.*

