Salam menyambut kami saat naik dan duduk di bus dengan sopir berbangsa Arab. “Assalamu’alaikum ya hajj.” Ya, kami dipanggil haji walau wukuf masih lama menanti. Panggilan “Ya Hajj”, “Ya Hajjah” akan terus menemani kami sampai burung besi memulangkan kami kembali. Bus bergerak, beliau langsung memimpin talbiah, “Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.”

Kami sambut talbiah dengan rasa gembira menyelimuti dada walau mata mulai merah berkaca-kaca. Terselip doa, “Ya Robbi, jadikan kami haji yang mabrur.” Talbiah berkumandang halus seiring bus melaju menuju Masjid Nabi dekat penginapan kami. Dada berdegup, di kejauhan kubah hijau Masjid Nabi terlihat murni. Hati berbisik, “Ya Rasulullah, hamba mohon izin berjumpa.”

Ya, guru berpesan sesungguhnya niat hamba ke kota ini hanyalah semata-mata untuk berjumpa Nabi karena Allah Jalla Jalaluh. Terik matahari selepas asar sebelum magrib membawa hamba dan rusuk tercinta menuju Nabawi. Dari sudut selatan Nabawi di pintu gerbang pagar dalam rasa sukacita, dengan suara rendah hamba berucap, “Assalamu’alaika ya Rasulullah, hamba datang.” Di luar kendali, tak terasa tangan terangkat melambai dan mata menatap kubah hijau, berkaca menetes air harapan agar diperkenankan bertamu. Detik itu seolah waktu mundur 1.400 tahun yang lalu, diri tertegun yakin akan kehadiran sang manusia agung itu.

Masyayid Dajjal berkata itu istana putih Sayyidina Muhammad, ya hamba memasukinya. Guru berpesan jangan lupa ambil salat arbain walau hanya amalan muslim Indonesia, muslim Melayu umumnya. Salat jamaah empat puluh waktu di Nabawi berurut tanpa jeda terputus, indah nian insan dilatih tidak meninggalkan salat jamaah di Masjid Nabi dan berjamaah abadi. Bismillah, kuatkan tekad dan sehatkan hamba untuk mengamalkannya. Langkah cepat lewati Bab Bilal (38), masuk masjid sesak dengan jamaah.

Selepas Isya, rasa rindu tak terbendung seiring kabar dapat bertemu lewat Bab As-Salam (1). Rasa penat hilang, bergegas masuk mengular tuk bertamu ke Manusia Agung. Waktu bagai melambat, kemegahan masjid sirna tak terlihat, mata lurus menatap tanah surga yang diharap. Detik-detik berlalu saat titik lingkaran terlihat, air mata rindu deras terasa hangat sehangat jiwa. Bibir tergetar berucap: