Frenemy Entrepreneur Vs Intrapreneur: Mewujudkan Ketahanan Regional Babel
Oleh: D’ Utama (Pemerhati Lingkungan dan Kemasyarakatan Bangka Belitung)
Profesor Widyo Nugroho Sulasdi menyatakan ada empat aspek pemikiran yang harus dimiliki pimpinan di daerah baik provinsi maupun kabupaten/ kota yaitu pemikiran secara generalis (berpikir dalam lingkup umum, tidak sempit), holistik (berpikir menyeluruh), kewilayahan (berpikir kewilayahan mengenal detail wilayah) dan spasial (berpikir berbasis data spasial)” dikutip dari Timelines. id dalam artikel opini Merawat Sayap Garuda Menegakkan Panji Panji Kedaulatan (22 /08/2026).
Selain empat aspek tersebut ada satu aspek lagi yang disampaikan oleh Prof. Widyo di forum diskusi rapat dosen jurusan saat itu yang menjadi catatan penulis merupakan salah satu aspek yang harus dimiliki pimpinan daerah dalam sistem otonomi daerah dan desentralisasi yaitu aspek berpikir enterpreneur, dengan kata lain pimpinan dan kepemimpinan di daerah baiknya seorang yang memiliki jiwa enterpreneurship. Ini sangat menarik karena dapat terlihat dari hasil pemilu 2024 legislatif bahwa 45 persen kepala daerah di Indonesia berlatar belakang pengusaha.
Kembali ke konsep dasar otonomi daerah dan desentralisasi, otonomi daerah adalah realisasi dari penerapan desentralisasi. Salah satu penopang otonomi daerah adalah desentralisasi fiskal. Dengan desentralisasi fiskal, daerah memiliki wewenang keuangan untuk menggali pendapatan asli daerah (PAD) dan mengelola anggaran belanja daerah sendiri.
Memang saat ini regulasi DBH (Dana Bagi Hasil) dari pusat masih untuk pemerintah daerah masih berlaku, numun desentralisasi memaksa daerah harus inovatif dan lebih bisa berhadapan dengan risiko, bagi pemenuhan anggaran belanjanya, dengan kata lain dalam sistem desentralisasi pemetintah daerah tidak bisa bergantung sepenuhnya dengan pemerintah pusat dalam hal fiskal.
Ciri-ciri utama seorang entrepreneur yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik dasarnya, mencakup ciri utama pimpinan (leader) yaitu sama sama memiliki pola pikir inovatif dan kreatif: mampu melihat peluang di tempat yang tidak dilihat orang lain serta menciptakan solusi baru untuk masalah yang ada. Kemudian berorientasi pada peluang: selalu mencari cara untuk meningkatkan sesuatu, memanfaatkan tren, dan membuat produk atau layanan menjadi lebih baik. Dan visoner: memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan bisnisnya dan tahu arah strategis yang harus diambil.
Enterpreneur dan leader sama sama memiliki sikap mental berani mengambil risiko: siap menghadapi ketidakpastian secara terukur (calculated risk), bukan asal berspekulasi, bermental resiliensi dan persistensi: memiliki mental baja untuk bangkit kembali dari kegagalan dan terus mencoba saat menghadapi penolakan atau kesulitan, selanjutnya sikap mandiri dan disiplin: mampu menggerakkan diri sendiri tanpa perlu diawasi orang lain serta memiliki kontrol diri yang kuat dalam mengelola waktu dan target.
Keduanya juga sama-sama miliki kemampuan eksekusi dan kepemimpinan yaitu berorientasi pada aksi: tidak hanya terjebak dalam rencana atau teori, melainkan langsung mengeksekusi ide menjadi tindakan nyata, kemudian jiwa kepemimpinan: mampu menginspirasi, memimpin tim, mendengarkan masukan, serta mendelegasikan tugas dengan efektif dan terakhir adaptif dan fleksibel: siap mengubah strategi bisnis (pivoting) jika kondisi pasar atau kebutuhan konsumen berubah.
Namun keduanya (enterpreneurship dan leadership) dibedakan oleh karakter manajemen fiskal dan keuangan yang hanya dimiliki enterpenur, seorang enterpreneur fokus pada konsumen, selalu mengutamakan kepuasan pelanggan karena memahami bahwa bisnis yang sukses adalah yang memecahkan masalah pasar dan melek finansial: mampu mengelola arus kas (cash flow), menghitung profitabilitas, serta mengalokasikan modal dengan bijak ke aset produktif.
Jadi sangat relevan pendapat Prof. Widyo mengenai aspek pemikiran dan mental yang harus dimiliki kepemimpinan di daerah dalam merealisasi otonomi daerah dan mewujudkan desentralisasi, terkait desentralisasi fiskal dan kemampuan manajemen keuangan, yaitu seorang pemimpin daerah harus memiliki aspek pemikiran dan mental enterpreneur.
Lalu bagaimanakah potret pimpinan daerah di Bangka Belitung saat ini? Penulis mencoba memotret dari sudut pandang enterpreneurnya.
Menariknya pimpinan daerah di Bangka Belitung dari tujuh orang kepala daerah pada periode saat ini ternyata enam orang berlatar belakang pengusaha, termasuk Gubernur Kapulauan Bangka Belitung Bapak Dr. (Hc) Hidayat Arsani S.E., seorang pengusaha sukses.
Hanya satu orang pimpinan yang berlatar belakang birokrat teknokrat yaitu bupati Bangka, namun beliau juga sebelum menjadi birokrat teknokrat pernah berkecimpung di dunia perbankkan sebagai karyawan bank swasta selama kurang lebih empat tahun, maka kemungkinan melek juga tentang manajemen fiskal dan keuangan.
Dengan kata lain secara umum siapapun dengan latar belakang apapun bisa menjadi pimpinann daerah, akan tetapi pimpinan suatu daerah wajib paham dan mengerti tentang manajemen fiskal dan keangan karena menyangkut penenuhan anggaran pendapatan asli daerah (PAD) serta ketersediaan lapangan kerja lokal yang harus diciptakan dan dihasilkan dari kebijakannya sebab bekerja dalam sistem desentralisasi.
Secara alami para pemimpi daerah di Bangka Belitung telah memiliki aspek enterpreneur sebagai modal menjalani desentralisasi fiskal, hanya saja saat berperan sebagai decition maker (pengambil keputusan) untuk policy (kebijakan) di pemerintahan daerah, fokus kepada konsumen pada dunia bisnis/usaha wajib beralih menjadi fokus kepada publik, rakyat dan para ASN. Kepuasan publik, baik materi dan non materi harus bisa terwujud, berupa pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang dan papan, lapangan kerja baru dan besarnya PAD yang diperoleh oleh setiap pemerintah daerah di Bangka Belitung baik provinsi maupun kabupaten/kota.
Pendapat penulis potensi pengalaman dan jejaring yang dimiliki pimpinan daerah di Bangka Belitung begitu optimal. Penulis yakin di pemda lain tidak ada yang seoptimal potensi pimpinan daerah di Bangka Belitung. Maka sangat disayangkan jika para pimpinan daerah ini menjadi lemah karena disebabkan jajaran birokrat dan teknokratnya tidak berpikir dan bermental enterpreneur juga.
Dalam berita media televisi, media elektroonik dan media sosial, para kepala daerah di Bangka Belitung berpacu derngan waktu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan investasi dunia usaha di segala lini sektor, Gubernur Bangka Belitung Hidayat Arsani langsung injak gas mengundang investor Tiongkok untuk investasi pelabuhan dan logistik, beliau juga memperkuat kaderisasi pengusaha muda di Bangka Belitung.

