Bupati Belitung Timur bergerak cepat menata aktivitas pertambangan di Belitung Timur untuk investasi pertambangan. Kabupaten Belitung Bupatinya fokus investasi pariwisata dengan kolaborasi untuk pemenuhan kebutuhan logistik dan infrastruktur kepariwisataan. Bupati Bangka Barat fokus meningkatkan investasi komoditas perkebunan, Dan Kabupaten Bangka Tengah memfokuskan diri kepada investasi SDM dengan peningkatan kapasitas dan integritas SDM dari sejak dini.

Kabupaten Bangka sebagai kakak tertua fokus investasi agroindustri namun sampai saat ini belum terealisasi baik melalui investor lokal maupun investor regional dan investor asing. Kota Pangkalpinang sebagai pusat jasa dan perdagangan, walikotanya fokus mendongkrak investasi perdagangan agar pajak dan distribusi daerah dapat meningkatkan PAD sehingga terpenuhinya kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan masyarakat kota Pangkalpinang.

Selanjutnya ada sebuah anomali di Selatan Bangka, sebagai seorang enterpreneur yang handal pimpinan daerahnya baru bisa menjual dirinya (selling oneself) belum bisa menjual potensi daerahnya ( selling the potential reginonal resouusces). Fokusnya masih kepada konsumen berupa publlic entertaiment (hiburan publik), bukan fokus kepada public basic need (publik dalam memenuhi konsumsi dasar mereka).

Kebutuhan entertaiment publik adalah kebutuhan pelengkap sehingga tidak memunculkan efek bola salju yang mempengaruhi ekonomi dan kemakmuran rakyat secara signifikan. Tidak keliru juga terobosan pimpinan tersebut karena ASN juga sekarang diwajibkan melek digital dan media sosial, kemampuan digital dan teknologi informasi sebagai potensi yang wajib dimiliki oleh ASN saat ini. Namun akan lebih baiknya jika pimpinan daerah lebih fokus kepada petolehan PAD dan pengelolaan keuangan daerah yang sehat dan akuntabel.

Saat ini para kepala daerah tidak bisa bekerja optimal dengan alasan keterbatasan anggaran belanja dan ketidakstabilan geopolitik global. Ada antitesis kepala daerah tidak bisa optimal bekerja saat ini karena kondisi global yang tidak stabil, yaitu dengan merubah orientasi mind set (pola pikir) dari bekerja membangun di atas kestabilan menjadi bekerja membangun di atas gangguan dan hambatan.

Mengutip timelines. id, pada artikel opini Angsa Hitam Atas Ketahanan Nasional Indonesia, oleh Heri S, (27/09/2026) menyatakan “Teori Angsa Hitam pada akhirnya adalah etika epistemik. Ia menuntut kerendahan hati intelektual untuk mengakui batas prediksi manusia. Bagi Indonesia, tantangannya bukan mencari “kristal bola” yang lebih akurat.

Tantangannya adalah membangun bangsa yang tidak lumpuh ketika kristal bola itu pecah. Dalam konteks bonus demografi dan transisi geopolitik global 2024-2045, pilihan kita sederhana: terus membangun di atas asumsi stabilitas, atau mulai membangun di atas asumsi gangguan”.

Penulis berpendapat mengacu pada keseluruhan isi artikel opini Angsa Hitam Atas Ketahanan Nasional Indonesia oleh Heri S, maka perlu disiapkan juga Ketahanan Regional Bangka Belitung, para pemimpin daerah melalui kepemimpinan dan komando Gubernur Bangka Belitung dengan karakter enterpreneur mereka, perlu mempersiapkan langkah tahapan sebagai berikut yaitu: pertama memperkuat otonomi daerah dan desentralisasi ekonomi dengan membangun lumbung pangan dan sumber daya energi mandiri serta pusat ekonomi baru berbasis kelurahan dan desa,

Kedua, mencari dan mengidentifikasi potensi baru daerah yang dapat meningkatkan PAD dan DBH untuk menyimpanan dana sebagai cadangan anggaran daerah dan ketiga menyiapkan jalur alternatif untuk mobilisasi orang dan barang, jalur logistik baru untuk mendukung rantai pasok ke dan di Bangka Belitung terlebih secara geografis berupa daerah kepulauan. Jka ketiga tahapan tersebut terlaksana diharapkan dapat membuat ketahanan regional Bangka Belitung kokoh maka akan mendukung ketahanan nasional Indonesia.

Sebagai penutup enterpreneur memiliki antitesis yaitu Intrapeuner, dalam dunia nyata keduanya tercermin dari profesi wiraswasta/pengusaha dengan antitesisnya adalah karyawan/birokrat, ini tercermin dari sisi sikap risiko dan inovasi.

Dapat dibayangkan ketika pimpinan berkarakter enterpreneur dan ASN berkarakter Intrapeuner (anti tesis dari pimpinan daerah) sebuah kontradiksi yang mengarah kepada inefisiensi dan inefektifitas jalannya roda pemerintahan. Oleh sebab itu kepala daerah perlu kejelian ekstra dalam memilih birokrat teknokrat yang akan masuk dalam gerbong pemerintahannya.

Dalam kewirausahaan tidak ada istilah ambisius buta dan makan tulang kawan yang ada adalah collaboration, coopetition, dan networking, maka para birokrat harus dapat berdamai dalam sistem dan budaya kerja lama, birokrat harus freenemy ( bebas dari konflik) pemikiran dan sikap dengan karakter enterpenur pimpinannya terutama birokrat daerah harus bercermin kembali seoptimal apa kapasitas dan kapabilitasnya membantu mewujudkan visi dan misi kepala daerah.

Pada akhirnya dengan partisipasi penuh rakyat dan birokrat ketahanan regional daerah dapat kokoh mendukung ketahanan nasional Indonesia. ***