Tantangan Penataan Ruang Kota Pesisir
Ini menjadi pengingat bagi para pemangku kepentingan di kota-kota pesisir dan pemda di seluruh Indonesia pada umumnya, serta Bangka Belitung pada khususnya. Pemda harus segera menyusun tahapan perkembangan dan perluasan kota-kotanya mumpung penguasaan tanah oleh pemda masih leluasa.
Saat reformasi agraria terus digulirkan, hal yang menjadi perhatian penulis adalah mengapa penguasaan tanah dan lahan oleh pihak swasta sangat masif, sedangkan penguasaan tanah dan lahan oleh pemda dan negara begitu merana dan susah?
Padahal, kebijakan perencanaan dan pembangunan tidak akan terwujud tanpa keleluasaan penggunaan lahan untuk infrastruktur oleh pemda dan pemerintah. Sangat menyakitkan ketika pihak yang memberi hak pakai, hak guna, dan hak milik adalah pemerintah melalui instrumen pemda beserta perangkatnya dengan biaya yang tidak seberapa, namun ketika lahan tersebut akan dipakai oleh pemda untuk pembangunan dan penataan infrastruktur umum, pemda justru harus menggantinya dengan biaya tinggi kepada individu, apalagi pihak swasta. Sungguh sebuah ironi.
Pertanyaan besar sekarang: bagaimana membangun kota agar tetap hidup dan berkembang? Penulis berpendapat sederhana saja, bercermin dari peradaban manusia selama ribuan tahun bahwa manusia cenderung hidup di dekat sumber air dan mata air.
Manusia membangun permukiman dengan sekecil mungkin dampak dari efek bencana, serta bermukim dekat dengan sumber makanan atau mata pencaharian.
Sebagai warga Kota Pangkalpinang dengan visi “SMART” sebagai kota modern (Pangkalpinang Smart), berdasarkan filosofi perkembangan peradaban manusia di atas, langkah-langkah yang harus diambil untuk pembangunan kota berkelanjutan bagi Pangkalpinang adalah sebagai berikut:
Langkah Pertama: Kebutuhan dasar yang wajib disiapkan dan dibangun terlebih dahulu adalah pemenuhan air bersih dan air minum bagi warga kota. Fokus pada infrastruktur sumber daya air dalam rangka menahan dan menampung air saat melimpah di musim hujan, mengendalikan banjir, serta menjaga ketersediaan dan distribusi air di musim kemarau. Langkah ini menerapkan konsep green city.
Langkah Kedua: Membuka dan membangun akses jaringan jalan baru yang menjadi arah perkembangan kota, sehingga memacu pembangunan infrastruktur, utilitas baru, dan terbentuknya kawasan baru (contohnya kawasan permukiman baru). Langkah ini mencakup konsep compact city.
Langkah Ketiga: Menciptakan pusat kegiatan ekonomi baru dan mengembangkan permukiman di daerah pusat ekonomi serta pusat perkantoran baru (contohnya membangun pasar tradisional baru).
Langkah Keempat: Menata permukiman kumuh perkotaan tanpa menggusur masyarakat dari pusat aktivitas ekonominya selama ini, serta mengurangi beban limbah dan sampah perkotaan. Ini juga mengacu pada konsep green city.
Langkah Kelima: Menyelamatkan wilayah pesisir dari kehancuran dengan konsep waterfront city, lalu mengintegrasikannya dengan konsep green city dan compact city.
Langkah Keenam: Menuju smart city untuk mendukung tata kelola perkotaan yang baik, transparan, dan akuntabel.
Menuju Kota Ekologis yang Berkelanjutan
Langkah terakhir adalah mengembangkan kota tanpa menggusur. Yang diubah adalah infrastruktur dan utilitasnya agar warganya dapat bermukim dengan tingkat kelayakan yang meningkat.
Membangun tanpa merusak, tanpa merusak badan-badan air, daerah tampungan, maupun daerah resapan, serta membuat rekayasa sumber daya air yang berkelanjutan.
Pemanfaatan daerah pesisir dilakukan tanpa merusak bentang alam yang berkaitan dengan abrasi pantai, pencemaran laut, dan pemanfaatan ruang wilayah pesisir. Hal ini mengarah pada eco-sustainable city (kota ekologis yang berkelanjutan).
Secara usia, Kota Pangkalpinang telah berdiri selama 269 tahunsudah sangat tua. Namun secara perkembangan/pertumbuhan seluruh kota, ia baru menginjak masa remaja alias kota sedang menuju kota besar. Ini adalah peluang, sebab kota akan lebih mudah dibentuk dan diarahkan perkembangannya agar dapat menjadi kota besar, bahkan kota megapolitan yang tertata dan teratur rapi.
Bisa saja untuk mengejar ketertinggalan kotanya, Pangkalpinang menggunakan konsep pengembangan secara paralel agar cepat mencapai smart city. Namun, risikonya adalah menanggung beban anggaran yang besar serta kebutuhan sumber daya manusia yang tinggi.
Prof. Udin sebagai teknokrat yang memiliki keahlian teknologi informasi sekaligus jiwa entrepreneur harus lebih jeli menghitung setiap rupiah yang keluar untuk diinvestasikan dalam program-programnya: seberapa besar dampak dan efek kontinunya terhadap pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.
Sebagai penutup, selamat hari jadi ke-269 Kota Pangkalpinang. Kotanya cerdas, warganya harus lebih cerdas (very smart people) untuk menuju eco-sustainable citykota ekologis yang berkelanjutan.

