Oleh: Putri Simba

Matahari sudah hampir tenggelam ketika Abah masih duduk di depan lapaknya di sebuah jalanan kota besar. Mainan-mainan kecil yang dibawanya sejak pagi masih tersusun rapi. Ada yang berbentuk bunga, naga, ayam, dan ada pula yang bewarna-warni. Namun, sampai sore hari, di pukul 17.30 WIB, tak banyak yang berpindah dari tangannya.

Abah hanya bisa menunduk. Tangannya gemetar, lalu seorang pemuda tampan yang berpakaian rapi dengan jas kantornya memperhatikan Abah dari kejauhan. Awalnya, ia mengira Abah sedang kedinginan, tetapi semakin diperhatikan, tubuh Abah justru terlihat semakin lemas. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya terus gemetar. Pemuda itu pun segera menghampirinya.

“Bah …” ujarnya dengan penuh kelembutan.

Abah perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan lelah, lalu Abah menjawab singkat.

“Iya, Nak?” sahut Abah.

“Abah enggak apa-apa?” tanya pemuda tampan itu.

Abah tersenyum kecil dan menjawab” Enggak Nak, Abah enggak apa-apa, cuma kecapean sedikit saja,” jawab Abah

Pemuda itu duduk di sampingnya, “Bah, apakah saya boleh duduk di sini?” tanya pemuda itu.

“Iya, boleh, Nak,” sahut Abah.

Lalu pemuda itu kembali bertanya dengan kelembutan suaranya.

“Bah, apakah Abah sudah makan?” tanya pemuda itu kembali.

Abah terdiam lama kemudian ia menjawab pelan. “Sudah, Nak. Abah sudah makan, tadi di warung,” kata Abah berbohong.

Pemuda itu menatap wajah Abah dan melihat jelas tatapan raut wajahnya. “Bah, ayo kita ke warung. Aku tahu kalau Abah hari ini belum makan, karena sudah terlihat jelas dari raut Abah,” ujar pemuda itu.

Abah menunduk lalu berkata jujur seolah ia malu untuk mengungkapkannya kepada pemuda itu

“Iya, nak, Abah sebenarnya lapar dan belum makan sejak pagi. Tapi kalau uangnya dipakai untuk makan Abah, nanti kalau ada yang mau beli mainan, Abah udah tidak ada modal lagi dan kalau mainan ini tidak dijual, bagaimana Abah bisa membawa makanan untuk keluarga di rumah, ” ujar Abah lirih

Pemuda itu terdiam, ia tak tega melihat kesedihan di wajah Abah. Setelah beberapa saat, ia berkata dengan lembut kepada Abah. “Abah, ayo sekarang kita ke warung. mainan-mainan Abah tinggal di sini sebentar saja, ya,” ajaknya dengan lembut.

Abah menggeleng pelan

“Tidak, Nak, jika Abah meninggalkan mainan Abah, lalu bagaimana nasib Abah dan keluarga jika semuanya tidak ada yang laku?” jawab Abah.

Pemuda itu kembali terdiam.Sementara kendaraan terus berlalu-lalang di jalan. Ia memandang Abah yang masih duduk di antara mainan-mainan dagangannya. Tanpa banyak bicara, pemuda itu segera berlari menuju warung nasi terdekat. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa beberapa bungkus nasi.

“Abah, ini untuk Abah dan keluarga, ya,” ujar pemuda itu sambil menyerahkan nasi tersebut.

Abah menatap bungkus nasi itu, “Untuk Abah?” tanya Abah kepada pemuda itu, seakan tidak percaya.

“Iya, Bah, ini untuk Abah,” jawab pemuda itu.

Abah tidak langsung mengambilnya. Ia justru kembali bertanya.

“Tapi, Nak … berapa harga nasi ini?” tanyanya lagi.

“Tidak ada harganya, Bah. Ini gratis, untuk Abah dan keluarga,” jawab pemuda itu.

Abah menundukkan kepalanya