“Jangan begitu, Nak,. Abah bisa bayar nanti kalau mainan Abah sudah laku,” ucap Abah.

Pemuda itu menggeleng, “Nggak usah dibayar. Anggap saja rezeki Abah hari ini,” kata pemuda itu dengan tulus.

Tangan Abah perlahan mengambil nasi itu.
Jemarinya masih gemetar.

“Nak …” panggil Abah dengan suara bergetar

“Iya, Bah?” sahut pemuda itu.

“Terima kasih,” ucap Abah dengan nada penuh haru.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia segera menundukkan wajah, seolah tidak ingin pemuda itu melihat kesedihannya.Lalu pemuda itu kembali bertanya, “Bah, besok masih jualan?” tanya pemuda itu.

Abah tersenyum kecil. “Masih.” jawabnya singkat.

“Kalau besok belum laku, bagaimana?” tanya pemuda itu lagi.

Abah memandang mainan-mainan yang tersisa di hadapannya.

“Ya, tetap ditunggu. Rezeki nggak pernah salah alamat, Nak. Mungkin cuma sedang terlambat sampai,” jawab Abah lirih.

Mendengar itu, pemuda tersebut semakin terdiam. Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya.

“Abah ,kalau begitu saya borong semua, ya, mainan ini,” ujar pemuda itu.

“Jangan ,Nak. Abah takut menyusahkan dirimu,” jawabnya.

“Tidak, Bah. Tidak menyusahkan saya. Bahkan, nanti saya siap membantu Abah jualan lewat online, ya,” kata pemuda itu lagi dengan tulus.

Abah terdiam cukup lama. Air matanya kembali jatuh.

“Terima kasih, Nak … terima kasih,”ucap Abah berulang kali.

“Tapi kalau boleh Abah tau, siapa namamu” tanya Abah.

Pemuda itu tersenyum.

“Nama saya Rizaldi, Bah. Kalau suatu hari Abah mau menemui saya, datang saja ke kantor, ya,” jawab pemuda itu.

“Rizaldi … nama yang indah, pasti orang tuamu bangga kepadamu, Nak,” ujar Abah.

Rizaldi hanya tersenyum. Namun, tanpa disadarinya, matanya mulai berkaca-kaca. Abah memeluk erat bungkusan nasi di tangannya.

“Nak, terima kasih sudah membuat Abah merasa bahwa hari ini masih ada yang peduli,” ujar Abah pelan.

Rizaldi menatap Abah. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Di tengah suara kendaraan yang terus berlalu- lalang, Abah hanya duduk sambil menahan air mata.

Hari itu, Abah mungkin belum berhasil menjual semua mainannya, tetapi setidaknya, untuk pertama kali setelah sekian lama, ada seseorang yang membuatnya merasa bahwa perjuangannya tidak benar-benar sendirian.

Pangkalpinang, 25 September 2026