Transformasi Terasi Toboali: Melampaui Rekor MURI Menuju Ketahanan Sosioekonomi Pesisir
Oleh: Randi Syafutra — Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Unmuh Babel, Kandidat Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University, & Pendiri TERRA Indonesia
Pemecahan rekor MURI pembuatan 300 kilogram terasi atau belacan Habang di Sport Center Junjung Besaoh, Toboali, layak mendapat apresiasi tinggi. Melibatkan 300 perajin lokal yang terbagi dalam kelompok kerja dengan 100 lesung kayu, acara ini berhasil memproduksi ratusan bungkus terasi higienis dengan berat presisi setengah kilogram.
Pembelian tunai atas seluruh hasil produksi oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) seketika menyuntikkan aliran dana segar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Kendati demikian, perayaan masif ini tidak boleh berhenti sebagai euforia seremonial semata.
Di balik aroma khas udang sungkur yang menguar hari itu, tersimpan tantangan struktural yang menahun dan menuntut solusi permanen dari pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan.

Realitas harian perajin pesisir Toboali sangat kontras dengan kemeriahan festival. Persoalan klasik selalu berulang setiap tahun saat musim panen raya udang rebon tiba. Meskipun tangkapan nelayan melimpah ruah, ketiadaan ekosistem pasar penampung atau investor berskala besar di tingkat lokal kerap menghambat rantai pasok.
Akibatnya, nilai jual terasi jatuh ke titik terendah ketika pasokan bahan baku membanjiri pasar. Kerentanan ini memperlihatkan rapuhnya ketahanan sosioekonomi masyarakat pesisir, terutama karena proses penjemuran tradisional masih sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.
Hujan sesaat dapat menghentikan produksi, menurunkan mutu, dan mengancam stabilitas pasokan harian. Kondisi fluktuatif ini memaksa perajin di kawasan Batu Perahu, Sukadamai, hingga Kampung Padang terus hidup dalam ketidakpastian pendapatan. Tanpa kepastian serapan pasar jangka panjang, capaian rekor dunia ini hanya akan menjadi anomali musiman di tengah jerat kerentanan ekonomi pesisir.

Oleh karena itu, intervensi struktural terintegrasi mutlak diperlukan. Langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menginisiasi program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) Kampung Terasi Toboali menjadi fondasi strategis yang sangat tepat.

