Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (VII)
Hari Keenam di Kota Nabi
Oleh: Yak Dand
Dingin dini hari menjelang subuh memasuki musim dingin infonya hamba dan cinta bergegas ke Masjid Nabi. Subuh ini agak lama menunggu iqamah setelah selesai azan. Ya, mungkin karena hari Senin banyak jemaah yang sahur untuk puasa sunah Senin-Kamis, jadi iqamah agak lama dikumandangkan.
Selesai Subuh, hamba bergegas menunggu di pintu bab khusus wanita di sisi utara masjid, menanti cinta keluar bersama ibunya. Hamba dan cinta menikmati pagi dengan mengambil air zamzam dari tangki khusus di dalam masjid sambil menunggu fajar menyingsing, kemudian kembali ke penginapan. Oh iya, hamba terlewat bercerita, di penginapan satu kamar berisi 4 jemaah (ada yang lebih, tergantung besarnya kamar).
Setelah berbenah dan beraktivitas sehari-hari, menjelang Zuhur hamba dan cinta kembali menuju Nabawi. Kali ini tujuan hamba langsung menuju Bab Jibril seperti kemarin, berharap bisa masuk dekat Raudhah. Alhamdulillah, setelah mengantre hamba bisa shalat di dekat Raudhah saat Zuhur.
Namun, selesai shalat hamba terlambat bergerak sehingga batas Raudhah lebih dahulu tertutup tirai. Peristiwanya sangat cepat, petugas masjid sigap menutup Raudhah sehingga hamba gagal masuk. Hamba hanya bisa masuk ke sekat di samping Raudhah, kurang lebih tiga sekat darinya.
Dengan sabar hamba mengantre cukup lama untuk masuk Raudhah, sampai datang waktu Ashar. Saat Ashar, hamba berada di sekat terakhir, hanya berbatas satu tirai lagi dari Raudhah. Hamba melihat muazin naik ke tempatnya, dan beliau adalah mukimin yang sempat bertemu jemaah antre di pintu Bab Jibril sebelum Zuhur tadi.
Setelah selesai Ashar, hamba masuk Raudhah dan shalat sunah di samping tiang di bawah tempat muazin. Hamba tetap berada di tiang tersebut karena tidak ada askar (petugas) di posisi ini. Hamba tidak bergeming, tetap bertahan di samping tiang. Memang sempat terjepit jemaah yang mendesak masuk Raudhah, namun hamba tetap berpelukan dengan tiang tersebut.
Sambil berpelukan, hamba diantarkan sorban oleh jemaah Arab Badui di samping hamba untuk digosokkan ke tiang, atas permintaan jemaah lain di dalam Raudhah. Hamba agak bingung, tetapi tetap membantu mereka sambil terus berpegangan pada tiang agar tidak terlempar.

