Asap di Sebuah Desa
Oleh: Syabaharza
“Sampai kapan keadaan kita seperti ini?” tanya seorang lelaki setengah baya kepada teman-temannya yang sedang asyik menikmati kopi hitam di sebuah warung kopi.
“Mungkin sampai ganti pemimpin!” jawab seorang lelaki berkumis tebal seenaknya.
“Sudah banyak korban berjatuhan, terakhir pagi tadi dua nyawa melayang,” lelaki setengah baya melanjutkan.
“Betul! Sudah puluhan nyawa tak tertolong akibat dari keadaan ini,” salah seorang berpakaian kaos oblong warna merah menimpali.
“Lantas, apa yang harus kita lakukan?” Lelaki setengah baya itu terus meracau, kali ini kalimatnya seperti ajakan atau mungkin seperti sebuah provokasi.
“Benar sekali pertanyaanmu itu, apa yang harus kita lakukan?” Lelaki berkaos oblong tadi menimpali sambil mengulang kalimat lelaki setengah baya.
“Iya, jangan sampai nanti kita menjadi korban juga!” Lelaki berkumis tebal juga mulai terprovokasi.
Suasana hening sejenak. Semua terdiam sambil mencari ide yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Lelaki setengah baya tampak mengerutkan keningnya, tanda ia sedang berpikir keras. Lelaki berkumis tebal juga tampak berusaha mencari solusi. Dan lelaki berkaos oblong warna merah tidak kalah serius, tapi tetap menyeruput kopi yang hampir habis.
Sekitar sepuluh menit suasana membisu itu menguasai mereka. Tiba-tiba lelaki berkumis tebal berseloroh, “Bagaimana kalau kita ajak warga mendatangi kantor desa?”
“Untuk apa?” Lelaki setengah baya dan lelaki berkaos oblong tanpa komando bertanya secara serentak.
“Kita minta pertanggungjawaban aparat desa terkait masalah yang menimpa desa kita!” Lelaki berkumis tebal mencoba menjelaskan tujuan dari perkataannya tadi.
“Jadi kita akan mengadakan demonstrasi?” tanya lelaki setengah baya.
“Begitulah kira-kira.”
Mendengar jawaban lelaki berkumis tebal, lelaki setengah baya dan lelaki berkaos oblong manggut-manggut. Tampaknya mereka sudah paham maksud dari perkataan lelaki berkumis tebal tadi.
Setelah dihasilkan kesepakatan, mereka akhirnya membubarkan diri meninggalkan warung kopi legendaris di desa itu. Tersisa gelas-gelas dengan resekan kopi yang mengental serta pemilik warung yang membereskan tempat duduk mereka.
Malam itu, di sebuah kantor perusahaan yang cukup besar, tampak dua lelaki sedang berbincang serius. Satu lelaki memakai jas warna hitam dengan dasi kupu-kupu tampak duduk di kursi besar. Ia terlihat sangat kesal dengan lelaki yang memakai jaket hitam di depannya. Lelaki berjaket hitam tampak berdiri seperti orang yang sedang menunggu vonis hakim dalam sebuah persidangan.
“Kamu sangat tidak becus!” Dengan congkaknya lelaki memakai jas hitam membentak lelaki yang memakai jaket hitam. “Sudah saya beri waktu satu bulan, tapi belum beres-beres juga!” Lelaki itu melanjutkan amarahnya. “Dasar Katek Ambekan!”
Lelaki berjaket hitam hanya terdiam ketika kata-kata cacian itu keluar dari mulut lelaki berjas hitam. Bahkan untuk mengeluarkan napas saja lelaki berjaket hitam itu sudah susah payah.
“Aku sudah habis uang banyak untuk membiayai kamu menjadi pejabat seperti sekarang ini!” Lelaki berjas hitam terus mengeluarkan uneg-unegnya. Kali ini ia bergeser lebih dekat dengan lelaki berjaket hitam. Hal itu menambah ketakutan lelaki berjaket hitam.
“Hanya mengurus hutan dengan ukuran kecil saja kamu tidak becus!” Lelaki berjas hitam kembali meluapkan amarahnya, kali ini ia mengungkapkan alasan dia marah.
“Maaf, Pak……” Suara lirih tapi terputus keluar dari mulut lelaki berjaket hitam. Tampaknya ia ingin memberikan alasan tentang kegagalannya memenuhi ekspektasi lelaki berjas hitam.
“Apa?” Lelaki berjas hitam bertanya dengan nada tinggi.
“Hutan itu milik seseorang yang berkuasa juga, Pak, jadi……”
“Siapa orangnya? Apakah ia lebih kaya dari saya? Apakah ia lebih hebat dari saya?” Belum sempat lelaki berjaket hitam melanjutkan omongannya, lelaki berjas hitam sudah memotong dengan sangarnya. “Ayo sebutkan siapa orangnya!” Kali ini lelaki berjas hitam membentak.
“Namanya Usek, Pak.”
Lelaki berjas hitam itu tetiba terdiam mendengar nama yang disebutkan oleh lelaki berjaket hitam.
“Pak Usek yang rumahnya di ujung desa itu?”
“Iya, Pak.”
“Lalu apa alasan ia tidak mau bekerja sama dengan kita?” Lelaki berjas hitam terus mengonfrontasi lelaki berjaket hitam.
“Beliau tidak ingin menambah derita masyarakat lagi, Pak. Karena kalau ia setuju, berarti hutannya harus dibakar dan itu akan menyebabkan asap semakin pekat di desa ini.”
Untuk pertama kalinya lelaki berjas hitam tidak bisa berkata apa-apa. Yang disampaikan lelaki berjaket hitam seperti luncuran anak panah yang tepat mengenai jantungnya. Ia yang selama ini melakukan pembakaran hutan dengan brutal secara tidak langsung membuat semua makhluk menderita. Asap yang ditimbulkan akibat pembakaran hutan yang dilakukan anak buahnya sudah banyak memakan korban.
“Ah…… pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus bisa menguasai hutan itu!” Lelaki berjas hitam masih kekeh dengan keinginannya. Ia berusaha melawan hati nuraninya dengan egonya. Walau sebenarnya ia sadar hal yang dilakukannya membahayakan dan akan membawa korban, tapi rasa ingin menguasai segalanya membuatnya tidak memikirkan lagi bahaya tersebut.
“Kalau kamu tidak berhasil dalam satu minggu, jabatanmu saya pastikan akan hilang!” Setelah mengucapkan ancaman tersebut, lelaki berjas hitam berlalu begitu saja, meninggalkan lelaki berjaket hitam dalam ruangan itu.
Halaman kantor desa sudah ramai dengan kerumunan manusia. Pagi itu setiap orang membawa berbagai macam atribut dengan berbagai tulisan. Ada yang membawa spanduk, ada yang membawa kardus, ada yang membawa karung. Semua atribut itu berisi beragam tulisan celaan bahkan hujatan.
Sesuai kesepakatan beberapa lelaki yang berbincang tempo hari, mereka sepakat untuk melakukan demonstrasi di kantor desa mereka. Rencana yang awalnya hanya obrolan di warung kopi itu ternyata direalisasikan. Lelaki berkumis tebal waktu itu adalah koordinator lapangannya. Ia berhasil meyakinkan warga bahwa bencana yang sedang melanda desa mereka akibat ketidakbecusan kepala desa mereka. Sebagai seorang yang ditunjuk sebagai pimpinan demo, lelaki berkumis tebal itu tampil di depan dengan memegang sebuah megaphone dan diiringi oleh warga lain di belakangnya.
“Saudara-saudara, kita harus meminta pertanggungjawaban Bapak Kepala Desa, betul?”

