“Betuuuul……” Semua warga yang hadir bak sebuah paduan suara menjawab dengan kompak.

Wajah-wajah mereka tampak memang sudah kesal dengan situasi desa mereka. Mereka sudah muak dengan bencana yang melanda desa mereka, apalagi bencana tersebut sudah memakan banyak korban.

“Sudah hampir lima bulan desa kita dilanda oleh kabut asap dan sudah memakan banyak korban, jadi mulai hari ini kita harus stop keadaan ini, setuju?”

“Setujuuuu……” Kembali peserta demonstrasi menjawab dengan kompak seperti sudah latihan berbulan-bulan.

“Kalau kepala desa tidak bisa mengatasi musibah ini, maka kita tuntut beliau untuk mundur dari jabatannya, benar tidak?”

“Benaaar……” Untuk yang ketiga kalinya warga yang datang ke kantor desa itu menyetujui apa yang diucapkan lelaki berkumis tebal itu.

Para demonstran mulai merangsek ke halaman kantor desa. Tampak komandan Perlindungan Masyarakat (Linmas) desa mulai sibuk mengantisipasi pergerakan warga. Komandan Linmas berusaha menjalankan tugasnya dengan profesional. Tuntutan tugas membuatnya harus berani melindungi sang kepala desa yang merupakan atasannya, walau ia tahu nyawanya bisa saja terancam jika para pendemo melakukan tindakan anarkis.

“Keluarlah, Bapak Kepala Desa!”

“Yaaa……” Teriakan peserta demo mengiringi kalimat korlap mereka.

“Kalau Bapak tidak keluar, kami akan memaksa masuk ke dalam kantor!” Kali ini kalimat ancaman yang keluar dari lelaki berkumis tebal.

“Ayoo…… keluarlah!”

Teriakan-teriakan dari demonstran semakin menggema dan nyaring. Suasana hari yang mulai siang dan panas membuat emosi mereka mulai memuncak, apalagi yang ditunggu-tunggu tidak juga kunjung keluar menemui mereka. Atribut-atribut demo yang mereka pegang diangkat setinggi-tingginya sehingga sangat jelas terlihat tulisan yang ada. Tulisan yang mewakili aspirasi mereka:

“Turunkan kepala desa”

“Kepala desa tidak becus”

“Jangan jadi kepala desa kalau hanya diam di kantor”

“Menyesal kami memilih Bapak”

Itulah di antara tulisan-tulisan yang ada di atribut pendemo.

Sementara di dalam kantor, sang kepala desa tampak sibuk menelepon seseorang. Mungkin ia sedang meminta perlindungan dari seseorang yang dianggap mampu melindunginya. Sang kepala desa ternyata lelaki berjaket hitam yang mengobrol dengan lelaki berjas hitam waktu itu.

“Bagaimana ini, Pak? Kata Bapak saya akan aman! Kata Bapak warga tidak akan protes!” Sang kepala desa mulai terlihat cemas, apalagi di halaman kantor terlihat para pendemo semakin hilang kesabarannya. Para Linmas tampak sudah kewalahan menghadapi demonstran.

“Untuk sementara kamu selamatkan diri dahulu!” perintah seseorang dari ujung telepon kepala desa. “Kamu keluar saja dari belakang, jangan temui mereka,” kembali perintah didapatkan sang kepala desa dari ujung telepon.

Kepala desa bertambah tegang. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Ruangan yang berpendingin itu terasa sangat panas dirasakannya.

“Halo, Pak!…… Halo…… halo……” Sang kepala desa bertambah panik karena sambungan telepon sudah diputus oleh orang yang dianggapnya mampu menolongnya. Akhirnya ia berpikir lebih baik mengikuti ide orang yang diteleponnya tadi daripada mati konyol menghadapi amarah para demonstran.

Di luar kantor suasana mulai tidak kondusif. Warga mulai bertindak anarkis. Dari belakang tiba-tiba melayang sebuah benda keras tepat mengenai kaca samping kantor desa. Suara keras mengiringi hancurnya kaca sebuah jendela kantor desa. Melihat aksi itu, peserta demo yang lain mulai tersulut emosinya. Mereka secara spontan mengambil apa yang bisa diambil di dekatnya; ada yang mengambil batu, ada yang mengambil kayu, kemudian melemparkannya ke arah kantor desa.

Apesnya, salah satu lemparan tepat mengenai kepala komandan Linmas dan dalam hitungan detik sang komandan tersungkur ke tanah. Anggota Linmas yang lain dengan sigap menolong komandan mereka, dan kesempatan itu dipergunakan para demonstran untuk merangsek masuk ke dalam kantor desa. Mereka mencari sang kepala desa di setiap ruangan, tapi harapan mereka ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Sang kepala desa sudah meninggalkan kantor desa dari pintu samping. Sang kepala desa kabur meninggalkan warganya yang akan menyampaikan aspirasinya.

Melihat fakta itu warga bertambah emosi. Mereka menyulut api dan membakar kantor desa itu sebagai pelampiasan amarah. Mereka sudah dikuasai oleh amarah yang diprovokasi. Mereka tidak sadar bahwa tindakan anarkis mereka akan membuat persoalan baru di desa.

Sementara itu, melihat keadaan yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, lelaki berkumis tebal yang menjadi koordinator demo bergegas meninggalkan lokasi demo. Ia berniat menyelamatkan diri. Ia tidak ingin terlibat dalam tindakan anarkis warga dan tidak ingin diminta pertanggungjawaban. Ia berlalu meninggalkan orang-orang yang terprovokasi oleh raungan suaranya saat memulai demonstrasi tadi.

Asap mengepul dari sisa bangunan kantor desa yang dibakar massa. Asap itu menambah pekat udara desa yang sebelumnya memang sudah pekat akibat pembakaran lahan oleh orang yang tidak dikenal. Tampak sisa-sisa puing bangunan yang masih terasa panas jika didekati. Pegawai desa tampak sangat bersedih karena mereka tidak bisa lagi bekerja secara maksimal. Semua peralatan dan arsip penting ikut hangus. Benda-benda yang dibeli dari uang negara itu hangus tanpa bisa diselamatkan sedikit pun.

Warga pun sudah berkerumun seperti kemarin, tetapi situasi sekarang sangat berbeda. Jika kemarin mereka berkerumun karena ingin menyampaikan aspirasi, hari ini mereka berkerumun untuk menyaksikan suatu peristiwa bersejarah: hancurnya kantor desa mereka. Mereka adalah saksi sekaligus pelaku sejarah. Sementara sang kepala desa sampai sekarang tidak diketahui rimbanya. Bahkan keluarganya pun tidak mengetahui di mana sang kepala keluarga mereka. Handphonenya pun tidak bisa lagi dihubungi.

Di belakang kerumunan warga, tampak lelaki berkumis tebal berdiri dengan tenang. Ia menampakkan senyum yang aneh. Tingkahnya bagai orang yang baru saja memenangkan suatu pertandingan. Dan tidak berapa lama ia beralih menghindari kerumunan dan mengangkat panggilan telepon.

“Kerja yang bagus, pasti tahun depan ia tidak akan berani menyalonkan diri lagi,” sebuah suara dari ujung telepon yang memuji lelaki berkumis tebal. Ia pun tersenyum mendapat pujian itu.

“Nanti saya transfer bonus untuk kamu.” Kemudian telepon terputus. Sang lelaki berkumis tebal bertambah sumringah.

Di ujung telepon yang lain, di sebuah kantor megah, tampak seorang lelaki memakai jas hitam baru saja menutup telepon. Ia baru menelepon seseorang yang sukses menjalankan misinya: misi menghancurkan jabatan kepala desa dengan isu pembakaran lahan. Mereka sama-sama mendapatkan keuntungan. Orang yang diperintahkan akan mendapatkan bonus plus lahannya aman dari pembakaran, sedangkan lelaki berjas hitam akan mendapatkan keuntungan berupa pembukaan lahan secara gratis. Dan tentu saja pejabat desa yang mereka eksploitasi yang menjadi korbannya.

Lelaki berjas hitam kemudian menutup teleponnya setelah tadi ia mentransfer sejumlah uang sebagai bonus kepada seseorang yang bernama Usek. Dari foto profilnya, Pak Usek memiliki kumis tebal. Lelaki berjas hitam puas dan kembali tersenyum. Senyum di atas penderitaan masyarakat karena kepungan asap yang tidak tahu kapan berakhirnya.

Catatan: Katek Ambekan = Tidak berguna / tidak ada gunanya.

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected].