Oleh: Sang Peramu Aksara

Yang Maha Baik…
Bukan karena tak bersyukur,
langit cerah-Mu begitu indah,
mahakarya tiada dua.
Namun… kami butuhkan gelap.
Hamba terkenang mendung berarak,
diri ini ingin redup,
tertiup basah menghanyutkan resah,
kami rindu siang pekat.

Yang Maha Perkasa…
Tak semestinya kami bengal,
tapi sungai mengering menyambut ajal,
deretan pepohonan rapuh rubuh terjungkal,
menyerah lelah dalam barisan gersang.
Kering hati, kerontang terjal,
kami rindu basah.

Yang Maha Adil…
T’lah lama atap rumah sederhana ini tak bocor.
Sekian masa ibu-ibu kami tak hiruk-riuh
selamatkan jemuran baju-baju lusuh
yang memudar karena terlalu sering dipakai dan dibasuh.
Kami rindu gaduh.

Yang Maha Pengampun…
Ampunkan jika memang ini hukuman
pada siapa pun yang sengaja melalaikan,
melupakan sujud merawat keangkuhan,
hanya ingat saat terjerat kesusahan.
Kami rindu rimbun.