Oleh: Sang Peramu Aksara

Menghirup dalam… udara pagi ini,
ada aroma yang tlah lama kami nantikan:
aroma tanah kering
yang beranjak terbangun dan melangkah menjauh, terbang melangit
bersama alunan syukur.

Seiring reruntuhan hiasan debu
yang kini jadi kenangan,
kuhirup lagi dengus angin pagi yang tetiba genit,
mengusik ingatan pada lamanya penantian sulit.

Tersadar…
kini si lemah ini terpapar bahagia,
si pongah ini sesungguhnya tak berkutik.
Lenyap sudah rasa gagah,
pergi kini naluri serakah.

Menghisap sedalamnya embusan alam
yang terduduk manja di pangkuan hati,
memeluk mesra kepedihan
sambil menggelayut nakal dan berbisik:
“Kamu tak berhak pongah, aku tahu kau hanya seonggok cenas tak berkelas.”

Aku ambil sejumput tanah basah yang semula debu.
Sebegitu rapuhnya manusia-manusia
yang pernah merasa paling segalanya,
kini terlalu bahagia
hanya sekadar diberi hadiah: tanah basah.