Pagi yang Mewah
Aku melirik pada dedaunan yang tampak tersipu,
kudengar mereka bertasbih lirih.
Kutatap sisa ranting yang diam-diam berzikir,
kusentuh pepohonan yang berseri setengah menari…
Sesederhana itu rasa syukurnya,
setulus itu kepasrahannya.
Ya Allah…
Ampuni si pendengki ini,
maafkan mulut yang penuh caci ini.
Pantaskan hamba untuk bersujud,
terima kasih atas basah yang teramat mewah ini.
Saatnya melarung murung
ke samudera taubat-Nya yang kerap terlupa.
Basah ini benar-benar Mewah
Toboali, 25 Oktober 2026
Sang Peramu Aksara (Agus Bachtiar K.)
Halaman
1 2

