Renjana Rumahku
CERPEN, TIMELINES.ID — Di tengah hamparan padang rumput itu aku merasa tersesat.
Baju putih yang kukenakan perlahan kotor akibat aku terjatuh tadi.
Rona merah matahari perlahan terlihat di sisi barat sana, perlahan tenggelam meninggalkan peraduannya.
Bunga-bunga di sekelilingku mulai menguncup kembali, menyambut malam-malam gelap.
Tempat ini terlalu luas untuk seorang anak kecil sepertiku.
“Ibu! Ada bunga cantik seperti yang biasa digunakan pengantin!” aku beteriak agar ibu mendengarku di ujung sana.
Sayup-sayup aku mendengarnya berkata ‘jangan’.
Namun terlambat, bunga putih yang masih menguncup itu telah melewati kerongkonganku.
Ibu terlalu jauh untuk mencegahku menelan itu.
Aku juga terlalu penasaran akan rasa dari bunga ini yang selalu aku lihat menggantung di kepala pengantin.
“Una!” suara ibu masih terdengar sayup-sayup di ujung sana, “Una buka matamu!”
Puk puk puk
“Una!” suaranya masih terdengar. Namun kali ini terasa sangat jelas, “Una! Cepat bangun! Ini sudah jam berapa? Nanti kau terlambat lagi seperti kemarin.”
Tepukan di pipiku semakin kencang.
Dengan nafas tersengal aku segera membuka mata.
Fotoku dengan ayah sembari memegang piala terpampang nyata di pojok kamar sepetak ini. Namun, fokusku bukan lagi pada piala besar itu, melainkan pada bibirku yang mengembang lebar kala itu.
Ah aku sangat merindukannya.
“Bu, ini masih jam enam pagi. Una masih ngantuk,” jawabku polos.
“Una! Ibu gak mau kalau kamu sampai telat seperti kemarin. Ibu malu, Una!” ibu semakin membentakku dan menyuruhku untuk segera bangun.
“Una sudah belajar semalaman, Bu! Una capek!” aku balas membentak ibu.
Brugh
Pintu kamar sepetak ini ditutup ibu secara paksa.
Langkah kakinya menggema ke seluruh ruangan. Aku tahu, ibu sangat marah kali ini karena tidak menurutinya.
Tuhan, aku tak sanggup untuk hidup di hari ini.
Aku tak sanggup menghadapi ibu yang semakin menuntutku. Ibu tak lagi memberi perhatian kepadaku. Seolah ingatan ibu berhenti di mana hari kelam itu terjadi.
****
Pagi-pagi buta aku memilih berangkat sekolah lebih dulu.
Tak peduli bagaimana tanggapan ibu kali ini. Aku hanya ingin secepatnya pergi ke sekolah. Lagi-lagi aku merindukan momen ini.
Saat aku dan dia berangkat sekolah sama-sama. Terkadang kami juga bolos les matematika bersama.
“Kalau saja hari itu terjadi lagi, ibu pasti sudah mencoretku dari KK,” gumam kecilku sebelum melewati gerbang sekolah.
“Ly, kini bangku sebelahku kosong. Tak ada lagi yang mau duduk di sampingku. Andai kamu tidak pernah pergi.”
Langit sore membentang sejauh aku melangkah.
Rumah tetap menjadi tempat berpulangku, namun tujuan terakhirku bukan lagi bangunan itu.
Bangunan kokoh di depan sudah lama mati. Tak lagi memberi kehangatan dan kenyamanan untukku.
Rumah yang menemaniku sudah benar-benar pergi. Jauh sekali sampai tak menemukan kembali.
“Una! Lagi dan lagi kamu merusak kepercayaan ibu! Berapa kali kamu membolos les matematika? Hah?” pertanyaan menuntut dari ibu langsung menyerbu sebelum aku selesai menutup pintu.
“Una mau belajar mandiri saja bu. Teman-teman les Una sudah berbeda,” jawabku sambil berlalu menuju kamar sepetak.
“Una! Ibu tidak mau tahu, kamu harus bisa masuk universitas ternama di kota!”
Teriakan ibu tak lagi kuhiraukan.
Bukan sekali dua kali ibu berlaku seperti ini.
Semua harus sesuai maunya.
Amarahnya semakin tak terkendali jika orang rumah tak menuruti inginnya.
“Tenang saja bu, aku akan berusaha pergi sejauh mungkin dari rumah ini,” aku terdiam sesaat setelah meneliti foto keluarga yang bertengger di atas nakas, “Atau jika memungkinkan, aku akan pergi menyusul mereka” lanjutku.
****
Aku memasuki rumah ini lagi. Sejenak kuselisik bagian demi bagian bangunan yang apakah seharusnya aku sebut rumah? Helaan napas pasrah pun spontan meluncur dari bibirku, sebab yang kudapati hanyalah hampa yang menguasa.
“Kuharap sebentar lagi aku dapat pergi jauh dari rumah ini, seperti keinginannya” gumamku dalam hati.
Rumah ini hampa, sejauh mataku memandang, aku hanya mendapati sosok ibu yang sedang berkutat dengan kertas-kertas itu. Hingga tanpa sengaja, atensiku dan Ibu bertubrukan.
“Una, sini!!” panggilnya sedikit keras.
Aku sudah amat lelah seharian berkutat dengan soal-soal menyebalkan itu.
Lalu sekarang apalagi? Oh ya Tuhan, aku sudah tak punya tenaga untuk sekadar meladeni celotehannya.
Aku hanya ingin pergi ke kamarku, membersihkan tubuhku yang sudah lengket lalu beristirahat di kasur kesayanganku, namun tetap saja kaki ini membawaku melangkah untuk mendekati sosok di hadapanku sekarang.
“Huh, mulai lagi” dengusku kecil tanpa terdengar olehnya.
Dengan malas aku pun melangkah menghampiri ibu, aku sangat yakin ibu hanya akan membahas hal itu lagi, tentu saja aku sudah hafal.
“Bagaimana ujianmu tadi? jangan sampai nilaimu mengecewakan Ibu! Kamu harus masuk ke universitas ternama!”
“Una tau Ibu!!” sarkasku.
Belum selesai Ibu berbicara, aku langsung saja memotong tanpa menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
Awalnya aku merasa sedikit senang dengan kalimat yang diucapkan di awal, karena bohong jika aku tidak rindu dengan sosok itu, sosok yang selalu menanyakan tentang bagaimana hariku.
Namun kalimat ibu setelahnya memukulku telak, benar seperti dugaanku tadi bukan, ia pasti hanya membahas hal itu lagi.
“Una ke kamar dulu, Bu,” ucapku memelan sambil berjalan menjauhinya.
Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju kamar, samar-samar terdengar suara Ibu menyahuti perkataanku dengan kesal, namun aku bak pura-pura tuli,
sungguh aku memang lelah dan tak ingin menanggapi perihal itu lagi.
Cklek
Segera aku memasuki ruangan kecil bernuansa putih yang menjadi kamarku, pandangan ini lantas mengedar ke segala penjuru ruangan yang didominasi kesunyian.
Atensiku kemudian jatuh pada foto kecil yang ada di nakasku.
“Jadi seperti ini yang selalu kau rasa ly?” gumamku sembari terus aku pandangi foto kami.
Di antara sunyi yang mendominasi, kenangan masa lalu itu datang berlomba-lomba menginvasi benakku.
“Unaa, senyum dong kayak Lily gini biar fotonya bagus, nantikan mau kita pajang”
Aku biarkan mata dan telinga ini dikerubungi ilusi yang membuat dua sudut di bibirku melengkung seperti bulan sabit, namun seketika senyum ini pun luntur bersamaan dengan bahu yang meluruh letih.
Menyadarkanku bahwa kehangatan itu telah hilang tak bersisa, barangkali ikut terbawa bersama sosok yang kurindukan kehadirannya kini.
***
“Una! Buang bunga itu dari mulutmu! Kamu bisa keracunan, Una!”
Mataku mengerjap perlahan, sayup-sayuo kulihat Lily menangis ketakutan sembari tangannya terus-menerus memukul pipiku memintaku segera sadar.
“Kenapa? Una kenapa, Ly?”
Di sana, ibu dan ayah menghampiri kami. Ayah segera membopong tubuhku ke dalam mobil.
“Nak, ayah mohon jangan tutup matamu!”
Ah permintaan sederhana tapi aku tidak sanggup menurutinya.
Pandanganku semakin memburam dan perlahan menghitam sepenuhnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
“Tuhan, dadaku sesak sekali,” rintihan kecil mengalun merdu di tengah gelapnya malam.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.