Aku membuka mata tepat di hadapan Lily.

Ya, dia Lily dengan paras cantiknya. Lily yang bertubuh sama besarnya denganku. Apakah seperti ini jadinya kalau Lily memang masih hidup? Ah, tapi tak mungkin juga hal ini akan terjadi.

“Ly, sungguh aku mohon maaf kepadamu. Andai kamu tak pernah menyelamatkan aku. Andai jantung yang berdetak ini bukan milikmu. Kamu akan tumbuh besar juga sepertiku,” ucapku bersama semua rasa bersalah yang menguap di antara kami.

“Hey, aku tak pernah menyesal karena telah menyelamatkanmu. Satu-satunya orang yang berhak merawat jantungku hanyalah kamu. Kamu yang pantas untuk hidup, Una,” bisik Lily ditelingaku. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku yang kaku.

“Aku lelah. Aku mau ikut denganmu. Aku tak sanggup menghadapi ibu, Ly,” pelukan kami semakin erat saat kusebut ibu.

“Aku tahu, Una. Tolong bertahan sebentar lagi. Ketika hari itu tiba, aku pasti akan menjemputmu,” senyuman Lily terlalu serius untuk kuanggap sebuah kebohongan.

“Baiklah, janji!”

Perlahan Lily menghilang bersamaan dengan teriakan ibu di dapur sana.

Kurasakan sinar mentari menerebos jendela kecil kamarku. Ah mimpi dan janji itu terasa nyata bagiku.

****

‘Dimana rumah tempatku pulang?’ gumamku dalam hati dengan tangisan serak di dalam ruangan ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Terdengar dari luar seseorang mengetuk pintu kamarku dan bisa aku tebak bahwa itu adalah ibu.

Segera kulangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar kemudian menuju ruang makan.

Setibanya di sana sudah pasti dapat kutebak bahwa hanya senyap, diam, dan hening.

Tidak ada sedikitpun, suara yang terdengar hanya suara dentingan antara sendok dan piring.

“Tidak lama lagi pendaftarannya dibuka,” ucap ibu yang mendadak dan aku tahu ke mana maksudnya.

Aku hanya terdiam melanjutkan makan malamku. Aku merasa bahwa ibu masih menatapku dengan tatapannya dan dapat ku tebak apa yang selanjutnya ia katakan.

Baca Juga  Aku yang Begitu Rapuh

“Kamu tidak dengar ibu ngomong?!” bentaknya.

Aku sedikit menahan nafas dan menatap ke arah ibu. “Aku dengar, Bu, dan aku sudah tahu tentang pendaftaran itu. Aku akan berusaha masuk perguruan tinggi yang ibu mau.”

“Belajar lebih rajin. Ibu tidak mau kau tidak lolos masuk ke universitas itu.” Ibu pun menyudahi makan malamnya dan beranjak pergi dari hadapanku.

Aku hanya bisa menghela berkali-kali dan berharap bahwa ada yang mengerti tentang diriku saat ini.

Setelah makan malam pun aku beranjak pergi ke taman yang ada di belakang rumahku.

Kutatap langit tanpa bintang sedikit pun di sana.

Pikirku adalah Aku ingin menemukan rumah yang bisa membuatku tenang dan aman.

Bukan rumah saat ini yang ternyata menyuruhku untuk segera pergi dengan luka yang entah kapan akan aku obati. Lagi-lagi aku menangis memikirkan bagaimana agar aku bisa menjadi diriku sendiri.

****

Hari terus berlalu, tidak terasa pendaftaran untuk masuk Universitas semakin dekat.

Aku berusaha terus belajar untuk masuk ke Universitas yang ibu inginkan. Terkadang aku mengeluh dengan rasa capek dan juga sakit yang aku rasakan karena terus belajar.

Yang aku harapkan adalah aku bisa lolos dan diterima di universitas itu, ingin ku katakan bahwa sesungguhnya aku tidak ingin memasuki universitas itu.

Tidak peduli dengan tanggapan mereka yang menilaiku begitu sangat ambis bahkan terlihat seperti orang gila karena terlalu serius dalam belajar.

Aku ingin main seperti mereka, tapi ada hal yang lebih penting daripada itu semua.

Tibalah hari di mana adalah hari pengumuman.

Jantungku sangat berdegup kencang, apakah namaku ada di sana atau tidak?

Kuperhatikan baik-baik dan kubaca dengan teliti tanpa terlewatkan satu nama pun.

Kakiku terasa lemas ketika melihat satu nama yang ternyata tidak aku sangka-sangka bahwa itu adalah namaku. Ya, aku lolos.

Baca Juga  Legenda Ikan Kelek Pergam

Aku pulang dengan perasaan senang walaupun sebenarnya aku tidak tahu yang aku rasakan ini adalah perasaan senang atau sedih.

Aku berusaha untuk tersenyum, gembira dan sampai akhirnya aku berdiri di hadapan ibu.

“Una, lolos, Bu! Una berhasil masuk universitas yang ibu mau!” Girangku.

“Bagus, Una. Setelah ini lebih giat belajarmu dan segera dapatkan gelar sarjana.”

Senyumanku yang awalnya mengembang tiba-tiba hilang begitu saja melihat ekspresi ibu yang ternyata hanya biasa saja.

Segitiga terlintas di dalam pikiranku, apakah yang ibu pikirkan aku hanya harus belajar? Apakah tidak ada sedikitpun rasa gembira ketika tahu aku lolos?

Hatiku terasa sakit melihat ekspresi ibu yang biasa saja.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana membuat ibu kembali tertawa dan membuat ibu bangga terhadapku.

****

Tibalah hari di mana Aku sudah menjadi seorang mahasiswa di universitas yang ibu ku inginkan tentunya.

Hari-hari begitu cepat berlalu, banyak hal-hal baru yang aku temui di sini.

Aku berpisah dengan ibu karena universitasku beda provinsi dengan tempat aku tinggal.

Terkadang aku mengabari ibu sekadar memberitahu tentang kegiatanku selama perkuliahan dan terkadang ibu juga kembali mengabariku dan mengingatkanku untuk terus belajar.

“Halo, ibu. Ada apa nelpon Una?”

“Jangan lupa belajar, kamu harus dapat IPK 4 semester ini.”

Ingin kukatakan rasanya bahwa IPK itu hanya angka namun bagi ibu IPK adalah hal terpenting yang menunjukkan bahwa kita pintar.

Hari-hari yang terus berlalu itu ternyata makin menyiksaku.

Permasalahan organisasiku, ibu yang terus menuntutku agar IPK aku selalu tinggi, dan belum lagi permasalahan anak rantau lainnya. Ingin ku katakan bahwa aku tidak kuat menjalani kehidupan ini.

‘Ibu, bolehkah aku bilang aku tidak sanggup? Aku ingin bersandar di bahumu, aku ingin berkeluh kesah. Bu, ternyata merantau tidak semudah yang kupikirkan. Aku ingin cerita. Aku capek. Ke mana aku harus pulang?’ Batinku dengan air mata yang sudah menetes.

Baca Juga  Gemah Ripah Loh Jinawi

Pandanganku pun teralihkan pada sebuah foto keluarga yang tampak sumringah senyumnya.

Namun tangisanku makin pecah ketika melihat seorang pria dan gadis kecil yang berada di sebelahku dalam foto itu.

‘Bolehkah aku menyusul kalian?’

Kulangkahkan kakiku keluar dari kosan.

Kupikir aku harus menghilangkan pikiran negatif yang ada di pikiranku.

Selama di perjalanan, aku sendiri tidak tahu aku akan ke mana, dengan pandangan yang kosong aku terus melangkahkan kakiku.

Tanpa aku sadar ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berada di depanku. Lamunanku pun tersadar ketika beberapa orang memanggilku untuk segera menjauh dari jalan.

Tiin! Brakk!

Dapat kurasakan darah segar mengalir dari kepalaku, badanku terasa begitu sakit bahkan sulit untuk digerakkan. Perlahan pandanganku mulai terasa buram, namun aku sedikit bisa melihat bahwa banyak orang yang mendatangiku.

Sebelum akhirnya kesadaranku perlahan hilang aku melihat bayangan putih dan semakin lama semakin jelas. Air mataku menetes, dapat aku lihat dia adalah Lily. Apakah dia menepati janjinya?

Dengan senyumnya yang manis dan juga rambutnya yang terlihat sangat cantik.

Aku berusaha untuk tersenyum dan berusaha meraih tangannya untuk berjalan bersamanya.

Kesadaranku pun semakin hilang dan pandanganku seketika langsung hitam.  Ah, apa ini akhir hidupku?

****

Drrrtt! Drrtt!

“Halo? Iya, benar saya ibunya Una.”

“…”

“U-Una… kecelakaan?”

“…”

“Tidakk! Tidak mungkin… Unaa!”

***

Alih Wahana Puisi “Rumahku” karya Chairil Anwar.

Iftitah Ulfiana Maghribi, Shabila Meidiana Utami, Khusnul Sri Ainunnisa, dan Rahma Nurul Aini, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.