Sejak zaman SD dan SMP (1983), penulis sudah terbiasa membaca koran Kompas. Maklumlah, Iyek (kakek) penulis merupakan salah satu pelanggan harian Kompas. Setiap sore, beliau menunggu kedatangan pengantar surat kabar di depan Gudang Beras. Maklum, Iyek kami memang tinggal di belakang Gudang Beras TTB tersebut.

Nama Rozahan (almarhum) penulis biasa memanggil beliau dengan panggilan Mang Rozahan adalah sosok penting di balik hadirnya media-media yang bermarkas di ibu kota negara itu ke Toboali.

Selain sebagai karyawan PT Timah, Mang Rozahan merupakan penyalur media massa cetak atau agen surat kabar pada era tersebut. Tak heran bila pada zaman itu warga Toboali sudah terbiasa membaca surat kabar terbitan Jakarta, kendati harus terlambat satu hari dari tanggal terbitnya.

Sama halnya dengan dunia persuratkabaran, pada era penulis masih SD, siaran TVRI yang merupakan satu-satunya media televisi di Indonesia sudah dapat dinikmati warga Toboali dan sekitarnya. Kehadiran TVRI menjadi salah satu hiburan utama warga, di samping menonton film di bioskop.

Toboali juga dikenal dengan hubungan toleransi antarwarganya yang terjalin sangat baik. Kampung Ketapang atau Jalan Yos Sudirman, tempat penulis dibesarkan, dikenal luas akan kerukunan warga masyarakatnya.

Padahal, di kawasan itu berdiam berbagai suku bangsa Indonesia, mulai dari Suku Bugis, Etnis Tionghoa, Batak, Palembang, hingga Melayu Toboali asli. Tak heran bila Lurah Kelurahan Tanjung Ketapang pada era itu, Aksa Mursalin (almarhum), menyebut kawasan Ketapang sebagai Kampung Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai toleransi itu terus terjalin erat hingga kini.

Hari ini, 25 Oktober 2026, Kota Toboali telah genap berusia 318 tahun. Selamat Hari Jadi Kota Toboali! Teruslah menyejahterakan warga kotanya.

Ngomong-ngomong, bagaimana pandangan pembaca tentang Kota Toboali di era kini? Silakan dinarasikan dan diceritakan lewat tulisan. Ayo menulis!