Dari Amazon ke Bangka Belitung: Catatan Inspiratif Budidaya Arwana Zainal Arifin
Oleh: Andika Vebryansah — Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Koordinator: Dr. Sulvi Purwayantie, S.Tp., MP.
Siapa sangka di Pulau Bangka terdapat seekor “Raja sungai Amazon” yang kini berenang tenang di kolam-kolam budidaya milik seorang penghobi ikan hias. Kunjungan saya ke tambak ikan arwana Brazil milik Zainal Arifin memberikan pengalaman yang sangat menarik. Tidak hanya melihat ikan hias bernilai tinggi, tetapi juga mengetahui bagaimana sebuah hobi dapat berkembang menjadi bisnis keluarga yang menjanjikan.
Zainal Arifin merupakan pria asal Pagar Alam, yang telah menetap dan mengembangkan usaha budidaya ikan Arwana Brazil di Bangka Belitung selama kurang lebih dua tahun terakhir. Berawal dari kegemarannya memelihara ikan hias, dia kemudian memberanikan diri mendatangkan langsung indukan arwana dari Brazil untuk dibudidayakan di Bangka Belitung. Menurut Zainal, kondisi iklim tropis dan ketersediaan sumber air di Bangka Belitung cukup mendukung pertumbuhan arwana Brazil. Selain itu, lokasi usahanya yang berada di Tua Tunu, Kecamatan Gerunggang, Kota Pangkal Pinang, memiliki lingkungan yang sesuai untuk kegiatan budidaya ikan ini.
Yang menarik, jenis arwana yang dibudidayakan adalah Arwana Brazil Albino Kuning (Albino Silver Arowana) yang memiliki warna kuning cerah keemasan. Warna tersebut menjadi daya tarik utama karena terlihat sangat mencolok ketika ikan berenang di dalam air. Tidak heran apabila ikan ini menjadi salah satu primadona di kalangan penghobi ikan hias eksklusif. Tingginya minat pasar terhadap Arwana Brazil Albino Kuning menjadikan ikan ini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Dengan perawatan yang baik, ikan dapat memiliki nilai jual yang terus meningkat seiring pertambahan ukuran dan kualitas warna yang dimiliki.
Secara ilmiah, arwana Brazil dikenal dengan nama ilmiah Osteoglossum bicirrhosum dan berasal dari kawasan Sungai Amazon, Brazil, Peru, Kolombia, serta beberapa wilayah Amerika Selatan lainnya. Spesies ini termasuk kelompok ikan purba dari famili Osteoglossidae yang telah ada sejak jutaan tahun lalu. Menurut penelitian Hrbek dkk. (2005), Arwana Amazon memiliki kemampuan adaptasi yang unik terhadap perubahan muka air sungai Amazon yang sangat dinamis sehingga menjadikannya salah satu predator penting di ekosistem tersebut.
Menurut penuturan Zainal, anakan arwana didatangkan dari Brazil ketika masih berusia sekitar dua minggu. Setelah tiba di Bangka Belitung, tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses adaptasi lingkungan. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) hanya sekitar 50 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa proses budidaya arwana impor bukanlah perkara mudah. Perubahan suhu, kualitas air, hingga proses transportasi jarak jauh dapat menyebabkan stres yang tinggi pada ikan.
Kualitas air merupakan faktor penting dalam pemeliharaan ikan arwana karena kondisi air yang tidak terjaga dapat menyebabkan stres, gangguan kesehatan, bahkan kematian pada ikan. Oleh karena itu, pengelolaan parameter kualitas air seperti pH dan tingkat kekeruhan perlu dilakukan secara optimal untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan arwana. Dalam konteks budidaya yang dilakukan Zainal Arifin, perhatian khusus terhadap anakan arwana yang baru didatangkan dari Brazil menjadi sangat penting agar proses adaptasi terhadap lingkungan baru dapat berlangsung dengan baik dan tingkat kematian ikan dapat diminimalkan.
Menariknya, anakan arwana tidak dipelihara bersama induknya. Semua anakan dipisahkan dan ditempatkan di akuarium khusus agar pertumbuhannya lebih terkontrol. Selain memudahkan pemantauan kesehatan, metode ini juga mengurangi risiko persaingan pakan maupun cedera akibat interaksi dengan ikan yang lebih besar.
